[!!!] move

2

Hallo!
Setelah sekian tahun berhenti update FF, sekarang ullzsura kembali hehe. Belum bisa janji update FF lagi, tapi yang pasti sekarang saya pindah ke wattpadd, ya. Bisa follow dengan uname yang sama, ullzsura. Yang beda, sekarang ullzsura mengganti seluruh cast FF nya, ya. Dari Himchan B.A.P x Ulzzang Kang Sura beralih ke Wonwoo Seventeen x Model Lim Bora. Jadi untuk Carats, bisa dibaca ulang sambil mengenang ceritanya, ya hehe 😦

Untuk BABYs, jika ada FF baru dan sesuai dengan chara HimchanxSura tetap akan dipost di wordpress, ya. Terima kasih sudah menunggu~!

with love,

ullzsura

[Teaser FF] CAESURA

28

Author : Ullzsura & Cipani

Genre  : Romance

Cast     :

  • Kang Sura
  • Kim Himchan
  • Yoo Youngjae

    Lelah, padahal pekerjaanku tidak sebanyak dan serumit guru yang lain. Lorong kelas terasa panjang setiap kali aku melewatinya dikala pulang. Dan Kim Himchan, kenapa hari ini mataku terasa sering melihatnya? Wajahnya tertutupi loker yang tengah dibukanya namun aku dapat mengenali rambutnya.

    Tentu saja berusaha ku acuhkan. Aku masih kesal dengan insiden tadi pagi. Tapi gagal. Aku lupa ada satu anak tangga kecil yang menjadi pembatas antara loker dengan lorong kelas. Dan terjadi lagi. Tempat yang sama, jam yang sama dan posisi terjatuh yang hampir sama, hanya saja disaksikan oleh orang yang berbeda.

    “Aduh!”

    “Seonsaengnim? Kau baik-baik saja?” ia memasang posisi setengah berlutut dengan wajah khawatir yang membuat mataku tidak bisa berhenti untuk menatap wajahnya. Aku tidak pernah tahu kalau anak yang sering dibicarakan para guru karena kepintarannya ini dapat sebegitu menarik.

    “Tentu saja. Hanya kecelakaan kecil, Yoo Youngjae.” ucapku sambil berusaha untuk bangun. Bukan mencari perhatian atau apa, sungguh, tapi aku tidak dapat berdiri.

    “Kau tidak baik-baik saja, Kang seonsaengnim. Mari aku bantu.” ujarnya sambil membantuku untuk berdiri. Kulihat temannya dari kejauhan berteriak, mengingatkannya untuk bergegas karena telah ada yang menunggunya.

    “Kalian pergi duluan, aku menyusul.” ucap Youngjae singkat kemudian kembali berfokus padaku. “Sepertinya kau harus kembali ke ruanganmu, seonsaengnim. Aku bisa jika harus memijat.” dan senyumnya telah menyihirku.

    Baiklah, sekarang bukan saatnya untuk mengenang masa lalu. Tapi biar kuulangi, kini aku terjebak dalam situasi yang sama dengan kejadian 4 bulan yang lalu. Tempat yang sama, jam yang sama dan posisi terjatuh yang hampir sama, hanya saja disaksikan oleh orang yang berbeda. Juga dengan respon yang berbeda pula.

    Kim Himchan. Satu menit telah berlalu—kuhabiskan dengan mengingat masa lalu—dan ia masih tetap pada posisinya, berdiri dengan tangan kiri yang tengah memegang pintu loker sambil menatapku. Jika aku bersabar lebih lama lagi apa ia akan mengulurkan tangannya padaku kemudian membantuku berdiri?

    Ia menutup pintu loker kemudian menyenderkan punggung pada deretan loker di belakangnya, “Perlu bantuan?”

    Buang jauh-jauh harapanmu, Kang Sura. 

Amadeo Kou

25

Amadeo Kou

Author       : Ullzsura

Genre         : Romance

Rate            : PG-17

Cast            :

  • Kise Ryōta (Kuroko no Basuke)
  • Kise.Ryouta.600.1335702
  • Matsuoka Gou (Free!)
  • large
  •  Kou POV

    Jika ada yang bertanya perasaan seperti apa yang paling kubenci di dunia ini, ya perasaan yang sedang kualami sekarang ini. Perasaan ketika jantungku tak hentinya berdebar-debar tak karuan, membuat kakiku melemas seperti sudah berlari marathon. Detak jantung yang membuatku lemah, seperti orang penyakitan. Secara tidak sadar, aku menahan nafasku sendiri sedari tadi. Kurasa itu yang membuat tubuhku melemah seperti itu. Sialnya, aku tak bisa berhenti menahan nafasku sendiri.

    Satu persatu siswa SMA Kaijou keluar dari gerbang sekolahnya. Sekolah yang begitu besar. Penampilan mereka sangat berbeda dengan siswa sekolahku. Sekolah elit memang berbeda. Kalau dua tahun yang lalu aku tidak pindah ke Iwatobi, mungkin aku sangat ingin masuk ke SMA ini juga.

    “Gou!”

    Eh? Lelaki berambut kuning yang baru saja keluar dari gerbang langsung berteriak seperti itu saat melihatku. Dia tertawa seperti orang bodoh. Terlalu hyperaktif, seperti monyet kecil. Ah, tidak, aku tidak akan masuk SMA ini, aku akan memilih SMA Seirin saja kalau ingat ada anak itu di sekolah ini.

    “Kou! Namaku Kou!” Jelasku.

    “Tapi namamu memang Gou!”

    “Kou!!”

    Aku tidak suka karena nama Gou itu seperti laki-laki. Dan lelaki itu, lelaki menyebalkan yang sulit kuterima kenyataannya bahwa dia sangat kubutuhkan.

     

    ***

     

    “Ah, begitu.” Gumam Kise, lelaki yang kutemui tadi.

    Kise-kun adalah sahabatku saat di SMP Teiko dulu. Dia yang paling dekat denganku, jadi wajar kalau dia yang kudatangi pertama kali saat sampai di kota ini. Meskipun bukan wajahnya yang ingin kulihat pertama kali, tapi aku harus menemui Kise dulu sebelum bertemu dengan orang yang sangat ingin kutemui itu.

    Tadi Kise-kun mengajakku ke rumahnya. Ternyata kini dia hanya tinggal berdua bersama kakaknya. Dia tidak berubah, tetap jorok. Kamarnya yang luas jadi terlihat sempit karena barang-barang yang berserakan dimana-mana. Bisa-bisanya dia mengajakku ke kamarnya.    Si Kuning bodoh itu hanya berbaring di sebelahku. Satu kakinya bertumpu di kaki lainnya yang ditekuk. Setelah cerita alasanku mengapa kemari yang hanya ditanggapi dengan ‘ah begitu’, jujur saja aku tidak tau harus memulai obrolan baru lagi dari mana. Apakah harus kumulai dari Kuroko? Ah, ya, Kuroko!

    “Kou-chi.” Dia tiba-tiba saja menyebut namaku. “Kau jadi manager klub renang itu agar bisa melihat tubuh mereka, kan?”

    “Heee?”

    “Ahaha, aku tau jalan pikiran otak mesum sepertimu.”

    Sialan. Dia memang selalu menghinaku seperti itu, tapi ternyata hingga sekarang dia memang tidak bisa menjaga mulutnya. Aku tidak pernah berpikir seperti itu. Aku menatapnya geram, tapi kuputuskan untuk tidak membalas ucapannya. Kuambil handphone di sakuku dan basa-basi memainkannya. Aku harus berhati-hati padanya.

    “Kou.” Panggilnya lagi.

    “Hm.” Dia bangun dari tidurnya. Kurasa dia terus memandangku. Benar atau perasaanku saja? Dia tidak bicara lagi. Aku menoleh padanya dan….. jangan berpikir apapun! Segera kututup keningku dengan tanganku dan kututup mataku. Sepertinya Kise masih menatapku seperti tadi, bahkan aku tau dia lebih mendekatiku lagi. Aku saja bisa merasakan nafasnya. Jangan berpikir apapun!

    “Kou.” Panggilnya lagi.

    “Apa?! Jangan bercanda denganku!”

    “Kou.” Dia memanggilku lagi dengan suara rendahnya. Itu membuatku takut. Jangan baca pikiranku! “Memangnya aku saja tidak cukup?” Aku diam. Kenapa dia bicara seperti itu? “Buka matamu, bodoh.”

    Pada akhirnya, kubuka mataku perlahan. Detak jantungku tidak dapat berkompromi. Aku tidak tau apa yang harus kulakukan saat Kise menatapku dalam jarak sepuluh centi di depan mataku.

    “Kau masih sama saja dengan kau yang dulu.” Ujarnya. Dia menundukkan kepalanya, tak lagi menatapku. “Sampai kapan aku harus begini?”

    “Kise-kun, kau bicara apa?”

    “Aku tidak suka kau memanggilku begitu. Panggil aku Ryouta.”

    “….” Entahlah, tapi aku tidak bisa memanggilnya dengan nama depan, padahal kami begitu dekat.

    “Aku akan memanggilmu Matsuoka kalau begitu. Matsuoka, kau lapar?” Tanyanya yang tiba-tiba saja menatapku lagi. “Aku lapar. Kubuatkan makanan.” Dia lalu berdiri dan pergi menuju dapur. Ternyata cukup menyakitkan ketika dia tidak memanggilku dengan nama depanku lagi.

    “Ch, apa-apaan dia itu.” Gerutuku pelan. “Memangnya aku saja tidak cukup? Apa maksudnya? Dia hanya ingin aku melihat padanya saja? Baka.”

    “Besok pertandinganku dengan Akashi. Kuroko pasti datang. Kau jangan telat.” Ujarnya dari dapur. Dia mengingatkanku.

     

    ***

     

    Rasanya sudah lama sekali tidak melihat pertandingan basket sebesar ini. Rasa tertarikku dengan basket memang kurang. Dari dulu memang sama saja alasannya. Ya, karena Kise, aku menonton pertandingan basket.

    Seperti dugaanku, sekolah Kise kalah melawan sekolah Akashi. Memang sejak SMP dulu, Akashi jauh lebih unggul daripadanya, tapi tidak kusangka Kise akan tumbuh sehebat itu. Meskipun kalah, aku tidak melihatnya sebagai seseorang yang kalah. Dia hebat. Aku selalu berpikir, apa dia hebat karena dia dapat membaca pikiran lawan bermainnya? Sebenarnya itu sedikit curang.

    Ah, ya, Kise-kun memang dapat membaca pikiran orang. Entahlah, mungkin memang sejak lahir suka begitu. Alasanku menutup kening dan mataku saat itu karena dengan melihat dua bagian itu, dia dapat semakin jelas membaca pikiranku. Menakutkan.

    Kudengar bunyi langkah seseorang dating ke arahku. Kulihat ke samping, Kise sedang berjalan ke arahku. Tanpa sadar kuperintahkan wajahku untuk berpaling ke arah lain. Aku harus terlihat senang karena Kuroko sedang bersamaku. Sebenarnya sedari tadi aku hanya diam karena tidak tau apa yang harus kubicarakan dengannya. Basa-basi pun aku tak pandai. Sesekali Momoi-san mengajakku bicara, lalu dia bergurau lagi dengan Kuroko. Aku memang tidak terlalu akrab dengan mereka.

    “Anoo…, seru sekali ya! Ha-ha-haaa…” Ujarku sambil menepuk-nepuk pundak Kuroko. Aku tau dia akan memberikan respon dengan tatapan anehnya padaku. Bicara pada Kuroko hanya membuatku terlihat bodoh saja.

    “Sudah selesai?” Tanya seseorang di sebelahku. Kise. Dia menaruh kedua lengannya pada tiang penyangga sehingga wajahnya sedikit lebih dekat denganku.

    “Huh? Apanya?” Tanyaku.

    “Bicara dengannya.”

    “Mm.” Aku hanya mengangguk pelan.

    “Ikut aku.” Kise menggandeng tanganku, lalu membawaku pergi begitu saja.

    “Oi, kau mau kemana?” Aku menoleh ke belakang ketika Aomine-kun berteriak pada Kise-kun. Dia sama sekali tidak meresponnya. Dia terus saja berjalan membawaku keluar. Ketika dia menuntunku seperti ini, rasanya ingin menyerah saja.

    “Kita kemana? Bukankah ada satu pertandingan lagi?” Tanyaku. Dia tidak menjawabku. Dia berhenti untuk mencuci mukanya di samping gedung. Dia menunduk, menumpukan kedua tangannya di lutut. Air menetes dari rambutnya yang basah. Entah sampai kapan aku harus menyukainya.

    Kise kembali berdiri tegap dan berjalan ke arahku. Tinggi sekali. Dia tumbuh semakin dewasa, rasanya semakin sulit untuk berhenti menyukainya. Aku tau kini Kise membaca semua pikiranku, tapi semuanya aman. Rasa sukaku terbalut sempurna oleh rasa takutku. Dia menjadi menakutkan. Jauh berbeda ketika ia bersama teman-temannya.

    “Kapan kau akan menyerah?” Tanyanya padaku dengan wajah menyebalkannya. “Walaupun Kuroko itu polos, tentu saja dia akan tetap memilih Momoi. Bandingkan saja tubuhnya denganmu aha-ha…..” Ternyata dia Kise yang biasanya. Kise yang gemar mengejekku. Tengil.

    “Menyebalkan!”

    “Eh? Memang benar, kok.”

    “Bicara seperti itu tidak akan membuatku memilihmu, mengerti?”

    “Bukankah sejak awal kau sudah memilihku?”

    “….”

    “Oi! Kise!” Tiba-tiba saja ada yang memanggilnya jauh di belakangku. Kami berdua menoleh padanya. Sepertinya dia teman satu grupnya.

    “Ah, senpai!” Dan Kise bersikap ceria seperti biasanya dengan menunjukkan wajah berseri-seri bodohnya itu. Dia benar-benar seperti bermuka dua.

    “Pelatih akan membagikan makanan. Kembalilah ke ruang ganti!”

    “Baiklah! Tunggu sebentar!”

    “Ajak saja pacarmu juga!”

    “Huh? Mm.”

    Senpai-nya itu pun pergi. Pacar, ya…?

    “Ikut denganku?” Tanyanya dengan suara pelan, seperti ragu. Bahkan dia tidak menatapku sama sekali. Heeeh? Kenapa telinganya merah begitu? Memalukan.

    “Jangan berharap yang tidak-tidak!” Sentakku.

    “Apanya?!” Balasnya. “Cepat ikut denganku!” Kise kembali menarikku. Sepertinya dia akan membawaku ke ruang ganti.

    “Aku tidak akan pernah berpacaran denganmu.”

    “Aku menyukaimu, kau menyukaiku, kenapa kau membuat semuanya menjadi rumit?!”

    “Kau menyusahkanku!”

    “Berhentilah menebak-nebak apa yang akan terjadi nanti! Memangnya kau peramal!”

    “Kau tau? Untuk menjadi temanmu saja aku harus menerima banyak beban. Semua anak perempuan mendekatiku hanya untuk menanyakanmu dan—-“ Aku berhenti bicara ketika Kise membuka pintu ruang ganti sekolahnya. Aku tidak bisa berargumen dengannya lagi karena di dalam pasti banyak teman-temannya, tapi ternyata…masih kosong. Mungkin senpai-nya itu masih memanggil temen-temennya yang lain yang sedang berkeliaran. Kise berjalan menuju lokernya yang berada di pojok ruangan.

    “Itu artinya kau harus menjadi milikku. Mereka akan berhenti.” Ujarnya datar. Dia membuka lokernya dan menaruh handuknya di sana. Aku pun langsung berdiri di depan lokernya sebelum ia menutup pintunya. Tangan kanannya sudah hampir menutup pintunya. Hampir saja.

    “Kita tidak satu sekolah seperti dulu. Aku sangat mengenalmu. Kau tidak akan bertahan la—“

    “Kou-chan.” Tiba-tiba saja Kise memanggil namaku, membuatku berhenti bicara.

    “Apa?”

    “Kau tidak mengenalku dengan baik.”

    “Tentu saja aku ta—“

    Lagi, dia membuatku berhenti bicara. Dia menciumku, tepat di balik pintu loker.

    82536c1babeccbb7d8b6b32c5b3edb57-1          Cklek.

    “….kalau saja si bodoh itu tidak—–“

    Kudengar suara orang-orang mulai bermunculan. Teman-temannya sudah masuk ke dalam ruangan, tapi Kise tidak melepaskannya juga. Aku bisa saja pergi karena Kise tidak menyentuhku sama sekali, tapi kenapa tidak kulakukan?

    “E-eh? O-oi, Kise—“ Saat temannya bertanya dari kejauhan, barulah Kise melepaskan ciumannya dan kembali berdiri tegak. “Kau sedang apa?”

    “Sedang bicara dengannya. Kenapa?” Jawabnya santai.

    “Aku mau pulang.” Kataku tanpa melihatnya sama sekali. Terpaksa harus kulewati teman-temannya itu yang memandangku dengan penuh pertanyaan. Aku hanya bisa membungkuk pada mereka lalu pergi.

    Memangnya saling menyukai saja cukup? Kenapa dia begitu mudah untuk memutuskannya? Dia terlalu populer dan aku kesulitan dengan hal itu. Aku menyadari kemampuanku, makanya kuputuskan untuk menyukai Kuroko yang tidak begitu menonjol. Seorang pecemburu seperti aku ini memang sudah seharusnya tahu diri dari awal. Lagipula dia tidak pernah serius padaku. Sejak awal dia terlalu mudah untuk mengatakan suka padaku.

     

    ***

     

    Kise POV

     

    Kudengar Kou akan pulang lusa. Terpaksa kusuruh kakakku pulang ke rumah dan memaksanya untuk menyuruh Kou kemari. Jika kakakku yang menyuruhnya, dia pasti menurut. Sudah sejam yang lalu dia di ruamhku, tapi kakakku tidak datang juga. Dari setengah jam lalu dia menyibukkan dirinya di dapur untuk membuat makanan. Wajahnya menyeramkan. Ya, aku tau dia sedang berusaha menghindar agar tidak perlu banyak bicara denganku.

    Apa yang kulakukan kemarin itu salah? Aku terus berpikir sambil berbaring di depan TV. Tidak banyak yang bisa kulakukan untuk membuatnya mempercayaiku. Ha, ketika perempuan lain berlomba-lomba untuk dekat denganku, dia malah begitu. Lalu aku harus merusak wajah tampanku agar dia bisa menerimaku?! Dia orang bodoh.

    “Oi, kau lama sekali~” Keluhku. Aku tau dia sengaja berlama-lama di dapur. Keadaan canggung ini membuatku aneh. Bahkan dia diam saja ketika aku bicara. Aish, apa yang harus kulakukan. Kuputuskan untuk menghampirinya saja dan berakting seperti biasanya. Kulihat dia sedang membuat telur gulung. “Untuk apa membuat banyak seperti itu? Percuma saja kau membuat porsi untuk kakakku. Dia tidak akan memakannya. Kau tau kan kalau masakan burukmu itu hanya aku yang bisa memakannya?”

    “Sebaiknya kau tidur saja daripada membuat orang lain kesal lagi.” Balasnya. Akhirnya dia bicara padaku.

    “Tidak mau.” Dia tidak menatapku sama sekali. Dia seperti menganggapku tidak ada. Aku pun menarik tangannya agar dia menghadap padaku. Barulah saat itu dia melihatku. Ya, tanpa harus melihat matanya saja aku sudah sangat mengerti. “Kau marah padaku karena kejadian kemarin?”

    “….”

    “Bodoh. Kau bisa menganggapnya candaan. Lagipula kemarin kau tidak berontak sama sekali karna kau menyukaiku, kan? Jika aku melakukannya lagi sekarang pun aku yakin kau tidak akan menghindar. Berhentilah mengelak, aku lelah.” Tubuhku semakin membungkuk dan kudekatkan wajahku dengannya. Sudah selesai dengan aku yang diam saja menunggunya. Salahnya sendiri, sekarang aku harus sedikit memaksa. Tak peduli jika dia akan menamparku.

     

    Kou POV

     

    “….Jika aku melakukannya lagi sekarang pun aku yakin kau tidak akan menghindar.” Tubuhku benar-benar membeku ketika wajahnya mulai mendekatiku lagi. Bisa saja aku mendorongnya saat itu, tapi kenapa aku sangat takut hal itu akan jauh menyakiti hatinya? “Berhentilah mengelak, aku lelah.”

    Pada akhirnya, dia memang mampu menciumku. Kali ini berbeda dengan sebelumnya. Tangannya begitu erat memegang pergelangan tangan kananku. Rasanya sakit. Satu tangannya mendorong pinggangku sehingga aku tak bisa lari darinya. Satu tanganku mencoba mendorongnya ketika dia memasukkan lidahnya pada mulutku, tapi dia malah semakin memperlakukanku dengan kasar. Dia menyudutkanku pada tembok, memaksa kepalanya menelusup pada leherku. Bagian yang lunak dan basah itu sudah berhasil menjarahi leherku diiringi nafas beratnya yang terburu-buru.

    Apa aku sudah keterlaluan hingga membuatnya berubah seperti ini? Candaan. Apa hal ini pun candaan?

    “Kise-kun..hh.., yamete!”

    Aku berteriak padanya ketika tangannya masuk ke dalam bajuku dan tubuhku bergetar ketika tangannya bersentuhan dengan perutku. Dia tidak berhenti. Tangannya terus bergerak, bahkan dia berani menyentuh dadaku. Aku benar-benar membencinya!

    …..

    Dia berhenti.

    “Pendek. Papan Irisan. Menyebalkan. Tidak memikirkan perasaan orang lain. Aku akan tidur. Jangan mengganggu.”

    Akhirnya air mataku turun juga setelah dia pergi meninggalkanku. Dia mendengarku? Bahkan dalam pikiranku saja, aku mengucapkan hal yang bukan sebenarnya. Aku benar-benar munafik.

     

    ***

     

    “Dia itu memang bodoh dan cengeng.” Ujar Nami-san, kakak Kise yang baru datang setengah jam yang lalu. Dia berkomentar seperti itu setelah kubilang adiknya yang marah padaku. “Jika dia marah pun tidak akan bertahan lama.”

    “Tapi dia tidak pernah marah padaku sebelumnya.” Kataku. Sebagaimanapun aku memarahinya, dia tidak pernah terlihat tersinggung. Hanya karena aku tidak sengaja berpikir bahwa aku membencinya, dia jadi seperti itu. Bahkan tadi saat dia keluar kamar sebentar dan aku bertanya padanya, dia hanya menjawabku dengan ekspresi dingin. Kise yang seperti itu benar-benar menakutkan.

    “Jadi…., kalian sudah berpacaran, ya?”

    “Tidak!” Tegasku. Dia sama saja dengan adiknya. Senang menggoda dan membuat orang lain kesal dengan ekspresi menyebalkan mereka.

    “Bagaimana bisa?! Kau sedang berkencan dengan orang lain di sana?! Bukankah kau menyukai adikku?!”

    “……tidak.”

    “Tidak untuk yang mana?”

    “Aku tidak berkencan dengan siapapun.”

    “Aaa, jadi tidak salah, kan, kalau kau menyukai adikku?”

    “….”

    “Aku mengerti. Ryouta sering menceritakannya padaku.” Mataku langsung tertuju padanya. Apa yang dia ceritakan?! “Adikku memang tampan, ya. Hahaha.”

    “….” Benar-benar tidak ada yang berbeda dari mereka berdua.

    “Kalau kau menyukainya, kenapa harus ragu padanya? Kau tidak benar-benar menyukainya, ya?” Pertanyaan Nami-san sedikit menamparku. Kupikir aku benar-benar menyukainya. Kenapa aku ragu? “Waktu kau pindah, dia merengek padaku. Aku tidak menyangka kalau dia secengeng itu. Aku sangat bersyukur karena dia sangat menyukai basket. Setidaknya dia tidak terlalu uring-uringan. Lagipula…. kau tau sendiri kalau dia tidak berpacaran itu bukan karena dia ingin fokus pada hobinya. Kalau memang benar, mungkin dia akan berhenti mengejarmu dari dulu. Apa lagi yang kau ragukan?”

    Sebenarnya ada satu yang membuatku sangat takut. Bagaimana bisa aku menjadikannya milikku, lalu jika terjadi masalah yang tidak diinginkan, dia akan benar-benar pergi.

    “Jika aku tetap berteman dengannya, mungkin kita akan terus bersama.”

    “Hm.” Nami-san hanya tersenyum. “Ternyata kau benar-benar menyukainya, ya?”

    Begitulah adanya.

    “Tapi kau benar-benar tega membuatnya menunggu.” Lanjutnya.

    “Aku tidak menyuruhnya menungguku. Berkali-kali aku sudah menolaknya.”

    “Tapi dia akan terus menunggumu. Anggap saja jika memang pada akhirnya kalian harus bersama. Kau akan membiarkannya menunggu selama itu? Apapun kemungkinannya, kau harus mencobanya. Jika kau tidak menyukainya, kau boleh saja bertindak seperti ini, tapi kau menyukainya. Haaaah, aku mengerti perasaanmu. Perempuan memang tidak tau maunya apa.”

    “….” Aku masih diam, mencoba untuk berpikir.

    “Kalau kau tidak bersamanya dari sekarang, kau bisa saja menyukai orang lain di lain hari. Ryouta pun sama. Aku yang melihatnya, rasanya sayang sekali kalau perasaan itu tidak diperjuangkan.”

    “Wakatta.”

    “Hm?”

    “…..Aku mengerti. Aku akan bicara padanya.”

    “Pulanglah kalau begitu. Sudah malam.”

    “Eh?” Mataku melirik ke arah jendela dan hujan besar belum juga reda. Lagipula urusanku belum selesai, kan? “T-tapi…, uh, boleh kupinjam payung?”

    “Aku tidak punya payung.” Jawabnya cuek sambil memainkan lolipop yang dimakannya.

    “Uh.., etto…,”

    “Maksudku, kau harus menginap untuk malam ini.” Ah, nyatanya dia terlalu bertele-tele. Kalau ingin menyuruhku menginap, kenapa harus mengusirku terlebih dahulu?

    “Baiklah!” Jawabku semangat. “Lagipula banyak yang ingin kuceritakan padamu. Kau tidak mengantuk, kan, onee-san? Kita bisa bercerita sampai tengah malam.”

    “Ahaha, bicara apa kau ini. Ikut aku.”

    Tiba-tiba saja Nami-san menarikku keluar dari kamarnya. Dia berjalan menuju lantai dua, tepat pada kamar Kise. Apa? Dia mau menyuruhku bicara padanya sekarang? Aku tidak siap!

    “Ryocchi!” Nami-san membuka pintu kamar Kise tanpa mengetuknya dan seenaknya mendorongku untuk masuk ke dalam. Tak kalah terkejutnya denganku, Kise pun pasti merasa seperti itu. Dia yang tadinya sedang berbaring langsung bangun dari tidurnya. “Kou-chan akan tidur di sini, ya!”

    “Onee-san!” Mataku terbelalak karena ucapannya. “Aku tidur di kamarmu!”

    “Pacarku akan menginap malam ini, jadi kau tidak boleh mengganggu. Mengerti?”

    “T-t-tapi…”

    “Ja ne!”

    BLAM!

    Nami-san keluar kamar seenaknya dan menutup pintunya keras sekali.

    “Ryocchi! Kau berhutang padaku!” Teriaknya dari luar. Sekarang, aku tidak tau apa yang harus kulakukan. Aku hanya mematung di depan pintu. Sepertinya Kise-kun masih dalam mood yang buruk. Dia membuat keringat dinginku keluar.

    “Ano…, boleh kupinjam kasur lipatmu? Oh, atau aku akan tidur di ruang TV saja. Ehe-he.” Kataku kikuk.

    “Tidur saja di kamar. Di luar dingin.” Ujarnya datar. Dia bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan ke arahku. Tatapannya masih dingin. Dia menarik tanganku dan membuatku duduk di atas kasurnya. “Tidur saja di situ. Aku di bawah.” Ujarnya lagi. Dia mengambil futon di lemarinya dan menggelarnya di bawah, tepat di sebelah tempat tidur. Dia menyelimuti dirinya dan berbaring membelakangiku.

    “Matikan saja lampunya kalau kau mau. Oyasumi, Mat-su-o-ka.” Ucapnya. Bahkan dia terlalu kekanak-kanakan untuk menunjukkan bahwa dia marah padaku. Ini menyedihkan.

    Pantasnya aku memperjuangkan seseorang yang juga memperjuangkanku. Kise sudah melakukan semuanya, seharusnya aku balik mengejarnya. Tapi jika Kise mengabaikanku seperti ini, rasanya berat. ‘Kise-kun, seharusnya kau mendengar permintaanku’. Setelah semua hal yang kupikirkan sekarang ini, dia tetap saja diam. Itu tanda bahwa dia benar-benar lelah dan aku menyesal.

     

    Author POV

     

    Malam itu suara hujan yang turun malah membuat suasana semakin terasa sunyi. Sebisa mungkin Kou menahan tangisannya yang membuat nafasnya sesak. Ia tidak tau harus berbuat apa karena rasa gengsi tak bisa ditaklukannya. Kini ia hanya bisa merutuki dirinya sendiri. Disamping itu ia terus berpikir, berusaha menjernihkan pikirannya. Perlahan ia menggerakkan tubuhnya. Selangkah demi selangkah ia bangkit dan terduduk di samping Kise yang membelakanginya. Tangannya meraih selimut yang Kise pakai, memerasnya sekuat mungkin, berusaha menjadikan dirinya berani.

    “Kise-kun…”

    “Berhenti bersikap menyebalkan seperti itu.” Kise yang tiba-tiba bicara membuat Kou terkejut. Kise membalikkan tubuhnya dan bangun dari tidurnya, lalu menoleh pada Kou yang duduk di sebelahnya dengan mata berkaca-kacanya. Kou menunduk, tidak berani menatapnya lagi.

    “G-gomen.” Ucap Kou.

    “Kenapa?”

    “Aku…aku menyukaimu. Maaf.”

    “Aku tau.”

    Respon sederhana dari Kise membuat Kou benar-benar meneteskan air matanya. Ia takut penyesalannya itu tidak akan menghasilkan apa-apa. Kedua tangannya yang dikepal itu benar-benar menjadi kaku karena tegang. Ia tidak dapat konsentrasi memikirkan kata-kata yang seharusnya keluar dari mulutnya.

    “Maaf.” Ujar Kou lagi.

    “Apa yang sebenarnya ingin kau katakan?” Kou hanya diam, kebingungan dengan isi pikirannya. “Baka.”

    “…..”

    Tiba-tiba saja Kise menarik Kou ke dalam pelukannya.

    “G-gomen.” Ucap Kou yang terkejut dengan perlakuan Kise terhadapnya.

    “Untuk apa lagi kau meminta maaf?”

    “Aku menyerah.” Kini Kou mendongakkan kepalanya agar dapat melihat wajah Kise saat itu. Kedua tangannya erat memegang kaos Kise. “Aku menyerah sekarang. Jangan marah padaku. Maaf.”

    “Tanpa kau katakan itu pun aku sudah tau, bodoh. Berhenti minta maaf. Harusnya aku. Maaf sudah membuatmu takut. Maaf karna aku sudah menyentuhmu seperti tadi.”

    “Daijoubu. Aku sudah membuatmu menunggu lama. Gomen ne, Ryouta-kun?”

     

    ***

     

    Kise POV

     

    “Daijoubu. Aku sudah membuatmu menunggu lama. Gomen ne, Ryouta-kun?” ujar Kou. Aku tersenyum. Ya, memang sangat lama. Tapi berapa lama menunggunya sudah tidak berarti lagi sekarang. Aku sangat senang karena akhirnya dia menyerah padaku dan untuk pertama kalinya setelah sekian tahun, dia memanggilku Ryouta.

     

    ‘Aku tidak akan memperdulikan apapun lagi. Bahkan jika aku harus memberikan seluruh tubuhku padanya, tidak apa-apa’

    ….. Apa yang dia pikirkan. Kata-kata itu membuat telingaku terasa panas.

    “Nande?” Tanyanya dengan tatapan polosnya. Tak lama, wajahnya memerah dan langsung melepaskan diri dariku, lalu membuang wajahnya yang memerah. Apa dia lupa kalau aku dapat mendengarnya?

    Bodoh. Pertama kalinya aku begitu malu karena membaca pikiran mesumnya tentangku.

     

    -END-

     

    FF seadanya, ya. Gomen! Ditunggu commentnya 🙂

[FF] ALLONIA // PART 3

178

Image

Author : Ullzsura

Genre  : Romance, sad

Cast     :

–          Kim Himchan

–          Kang Sura

 

Sura POV

 

            “Lalu…, apa yang akan terjadi?” Tanya Hyojin penasaran. Aku pun ikut penasaran dengan apa yang Suzy ceritakan tentang apa yang terjadi antara dia dan kekasihnya semalam. Aku pun sangat antusias mendengar cerita darinya.

            “Kau akan hamil, begitu?” Tanyaku.

            “Tidak akan, bodoh!” Suzy malah memukul kepalaku dengan bukunya yang digulung.

            “Lalu?” Tanyaku lagi.

            “Tidak akan terjadi apa-apa, hanya saja aku merasa dia semakin sayang padaku.” Ujar Suzy yang senyum-senyum sendiri. Aku hanya menaikkan sebelah alisku.

            “Bagaimana bisa?”

            “Mana kutahu. Karna aku memberikan apa yang dia mau?” Suzy mengangkat kedua bahunya. Aku hanya berpikir, apa yakin karena hal itu? Ketika kukatakan aku akan memberikan apapun pada Himchan, dia malah marah padaku. “Sudah terlalu malam. Ayo kita pulang.”

            Kami semua pun mengambil tas kami masing-masing dan berjalan bersama-sama keluar dari kelas. Aku berjalan di samping Hyojin, seperti biasanya.

            “Mereka bahkan belum mencapai satu tahun.” Bisikku pada Hyojin.

            “Lalu kenapa? Kau bahkan tidak akan bisa menolak kalau Himchan yang akan melakukannya padamu.” Aku diam, berpikir kalau aku hanya dapat mengomentari oranglain. Ya, Hyojin benar. Tapi karena hal itu tidak akan terjadi padaku, kurasa bukan kesalahan besar jika aku sedikit berkomentar. “Sura…, apa yang kau perbuat?” Tiba-tiba saja Hyojin bertanya seperti itu dengan nada yang aneh, membuatku kebingungan.

            “Ne?” Kulihat Hyojin terpaku melihat ke arah depan, lalu aku pun menoleh pada pandangannya. Aku tak percaya dengan apa yang kulihat sekarang itu. Bahkan aku tak sadar kalau mulutku menganga cukup lama. Dapat kulihat Suzy dan yang lainnya yang berjalan di depanku pun menoleh padaku dan rasanya aku ingin memamerkan pada semuanya kalau dia kekasihku!

            Tapi aku tak dapat melakukan apapun. Aku kebingungan disaat Himchan hanya melihat padaku. Aku menoleh pada Hyojin, dia terlihat ikut kebingungan. Tapi dia mengarahkan kepalanya, menyuruhku agar menghampiri Himchan. Maka kulakukan. Aku berjalan menuju Himchan yang menunggu di gerbang sekolahku. Sedikit canggung karena teman-temanku terus memperhatikan kami.

            “Kenapa? Terkejut melihatku di sini?” Ujar Himchan padaku. Sedikit ragu aku mengangguk. “Ayo pulang.”

            Bingung. Apa yang harus kulakukan? Aku memandangi teman-temanku satu per satu, mereka mengisyaratkan padaku untuk mengikuti ajakan Himchan saja. Ya, lagipula aku tidak mungkin untuk menolak. Pada akhirnya aku berjalan menghampiri Himchan dan kami pergi pulang bersama.

            Hening dan dingin. Kami berdua berjalan menginjaki jalanan yang basah akibat hujan tadi sore. Aku memeluk tubuhku sendiri, merasa kedinginan karena lupa tidak membawa jaket. Mulutku tak dapat mengeluarkan kata-kata apapun. Aku tidak tau mengapa sikapku menjadi seperti ini. Seharusnya aku baik-baik saja seperti dulu.

            “Ada yang salah?” Tanya Himchan tiba-tiba, membuat tubuhku tiba-tiba saja merinding. Terlalu gugup. “Kau diam sedari tadi. Ada yang salah?” Tanyanya lagi.

            “Tidak. Hanya saja….kenapa kau mendatangiku?” Tanyaku.

            “Mulai pulang malam, huh?”

            “Ya, begitulah.” Kutundukkan kepalaku, terus memandangi jalanan yang kutapaki. Perasaanku sangat senang. Entah bagaimana untuk menggambarkannya, yang pasti aku ingin terus tersenyum. “Kau bisa sedikit terbebas dariku, kan? Aku tidak akan bisa lagi datang ke taman. Tapi apa boleh aku menemuimu setiap hari Sabtu?”

            “Bagaimana kalau setiap hari?” Aku hanya melongo memperhatikan wajahnya. “Maksudnya aku yang akan menemuimu.”

            “Ne?” Apa aku tak salah dengar?

            “Aku akan menjemputmu tiap pulang sekolah. Aku hanya khawatir karena kau pulang malam.”

            Tanganku meremas jari-jariku sendiri. Khawatir katanya? Aku tak percaya dia mengatakan hal itu padaku. Dia mengatakan seperti itu, bahkan aku tidak memintanya!

            “Uh, sebenarnya aku tidak apa-apa pulang sendiri. Ada beberapa teman yang rumahnya searah denganku. Sumin pun bisa menjemputku.”

            “Jadi kau tidak mau?”

            “Tidak, tidak! Aku mau!”

            Rasanya aku yang dulu telah kembali. Tidak mungkin aku menolak kesempatan seperti ini. Aku tidak ada apa-apa dengan Himchan, tapi kupastikan dia dapat membuatku tidur nyenyak malam ini.

 

***

 

Himchan POV

 

            Malam kedua aku menjemput gadis itu. Tidak tau mengapa aku bersedia untuk melakukan hal yang membuang waktuku ini. Aku hanya sedikit merasa tidak enak padanya semenjak membaca diary-nya itu. Ayolah, aku tidak sejahat apa yang akan orang bayangkan tentang diriku jika membaca diarynya itu.

            Kulihat dia berlari kecil ke arahku. Tampak bahagia. Baguslah.

            “Apakah lama menunggu?” Tanyanya yang masih mencoba mengatur nafasnya yang terengah-engah. Aku hanya menggelengkan kepalaku.

            “Ayo. Aku baru saja dapat uang. Mau kutraktir minuman?”

            Matanya berbinar. Tentu dia akan mengangguk semangat. Aku pun menarik tangannya untuk cepat pergi ke minimarket dekat taman.

           

***

 

            Duduk di bangku taman seperti dulu. Hanya saja kali ini sepi dan gelap. Kuperhatikan Sura menghangatkan tangannya dengan memegang cup kopi panas. Kulitnya memucat karena cuaca dingin, tapi tidak dengan pipinya. Tetap memerah. Apakah ada satu cara yang dapat membuatku menyukainya? Sepertinya ada. Hanya mengira-ngira. Sejujurnya aku tak dapat membedakan respect karena sebatas kasihan atau yang lain.

            “Ehm.” Dia berdeham. Sengaja? “Uh, untuk kali ini aku bingung harus bicara apa.” Lanjutnya.

            “Bukankah kau selalu menceritakan hal yang tidak penting padaku? Cerita tentang teman-temanmu?”

            “Ah, ya. Tapi sepertinya hal ini tidak pantas untuk diceritakan.”

            “Ceritakan saja.”

            “Temanku dan kekasihnya…..”

            “Hyojin?” Tebakku.

            “Bukan, temanku yang lain. Uh, mereka berpacaran baru…., kurang dari setengah tahun. Mungkin 4 atau 5 bulan. Tapi mereka sudah melakukan…itu.”

            “Itu apa?”

            “Ya, itu.”

            “Ya, apa?”

            “Itu…,” Aku tertawa kecil melihatnya terlihat malu untuk menjelaskannya padaku. Ya, mana mungkin aku tidak mengerti maksudnya dari awal.

            “Ada apa dengan ‘itu’?”

            “Bagaimana menurutmu tentang wanita seperti itu? Kau tidak suka?”

            “Aku tidak tau.” Jawabku jujur. Dia menoleh padaku, melihatku dengan tatapan bingung, membuat wajahnya semakin terlihat konyol di mataku. “Tapi jika aku adalah kekasihnya, kurasa tak ada masalah. Pria memang menyukai hal seperti itu.”

            “Apa itu artinya aku benar-benar tidak menarik?”

            “Hm? Maksudmu?”

            “Kalau pria menyukainya, termasuk kau, sikapku yang murahan ini bukankah bagaikan umpan ikan segar?”

            “Yah, Sura…,”

            “Lupakan. Kita harus cepat pulang sebelum Sumin menyerangku dengan mulutnya lagi. Ayo~”

            Dia menarik tanganku agar bangun dari dudukku. Ekspresinya seperti biasa, seolah tidak ada masalah. Tapi perkataannya membuatku jadi berpikir. Tidak menarik? Tidak, Sura sangat menarik di mataku. Ada yang membuatku takut untuk menyentuhnya. Aku tidak tau.

 

***

 

            Sura POV

 

            Berhentilah bersikap murahan, Sura. Seperti meminta untuk disentuh saja. Memalukan. Menyebalkan, aku tidak dapat melupakan rangkaian kata-kata murahan yang pernah kulontarkan pada Himchan. Mengapa sulit sekali untuk mengontrol ucapanku?

            Nyatanya tak ada perubahan dari Kang Sura yang dulu dan yang sekarang. Tetap menyedihkan. Apakah aku begitu kesepian? Setiap malam selalu seperti ini, merindukan Himchan. Jika saja ia seorang vampire, berkelana dimalam hari, lalu diam, duduk di atas pohon yang ada di halaman rumahku, mengamatiku dari sana, menyanyikan lagu untukku sampai aku tertidur. Ah, bukan andaikan dia seorang vampire, tapi andaikan dia mencintaiku. Dan lagi-lagi aku mengkhayal.

            Kring…..kring….

            Tiba-tiba saja telepon kamarku berbunyi, membuatku semakin sadar dan terpaksa harus menghentikan khayalanku. Aku pun segera mengangkat pesawat teleponnya.

            “Halo?” Sahutku.

            “Ada telepon dari saudara Hyojin. Mau kusambungkan?” Ujar Sumin. Saudara Hyojin? Apakah itu Himchan?

            “Ah, ya!” Dengan semangat kukatakan ‘ya’. Apa tidak salah Himchan meneleponku?

            “Uh, halo?” Terdengar suara dari sebrang. Dadaku kembali berdebar saat mendengar suara rendahnya. Baru kali ini aku gugup untuk bicara. Sangat gugup. “Sura?”

            “Uh, ya!” Tapi Himchan tertawa saat aku menyahutnya. Kenapa? Apa aku terdengar terlalu bersemangat?

            “Kau belum tidur?” Tanyanya. Suaranya di telepon berbeda. Suaranya menggelitik telingaku. Bagaimana ini?

            “Aku tidak bisa tidur.” Kataku. “Apa kau pakai telepon umum?”

            “Tidak, aku pinjam ponsel temanku.”

            “Darimana kau tau telepon rumahku?”

            “Untuk apa ada buku telepon?”

            “Ah, ya~.” Lalu bingung harus mengatakan apa lagi.

            “Kalau kuajak jalan-jalan ke luar, kau mau?”

            “Huh?”

            “Aku ada di depan rumahmu.”

            Terkejut, langsung saja aku loncat dari atas tempat tidurku, lalu membuka tirai. Himchan di sana sedang melihat ke arahku! Ada apa dengannya akhir-akhir ini? Ah, tapi aku tidak peduli, yang penting aku sangat bahagia malam ini. Tapi…, bagaimana caranya aku keluar dari rumah ini?

 

***

 

            Himchan POV

 

            “Aku takut…” Rengeknya di atas dinding pagar rumahnya.

            “Loncat saja, nanti kutangkap.” Kataku kesal. Rumah dengan pagar tinggi seperti ini memang menyusahkan.

            “Nanti kau jatuh.”

            “Yah, badanmu yang seperti korek api tidak akan membuatku jatuh. Cepat.” Dia menurunkan satu kakinya. Terlalu berhati-hati. Lama, membuatku semakin kesal. “Cepatlah, kalau tidak Sumin akan melihatmu.”

            “Ya, ya. Huwaaa, bagaimana ini?” Kini dua kakinya sudah menggantung. Langsung saja kutarik kedua kakinya dan kutangkap dia. Dengan cepat dia memberatkan badannya hingga kakinya menapak pada jalanan. Kedua tangannya masih mengalungi leherku. Kau tau? Ekspresinya lucu sekali saat itu. Wajahnya berubah menjadi merah. Dia malu, huh? Dengan cepat ia menurunkan tangannya, lalu menyibukkan diri dengan membersihkan belakang celananya. Dia tidak terjatuh, untuk apa membersihkan celananya?

            “Wajahmu konyol sekali.” Ejekku. “Ayo pergi.” Lanjutku, lalu menarik tangannya.

            Kami pun menelusuri jalanan yang cukup sepi. Mungkin karena sekarang sudah pukul 11 malam. Entah apa alasan sebenarnya aku mengajaknya keluar malam. Aku tidak bisa tidur dan merasa bosan. Sura berjalan di sebelahku, terus menunduk memperhatikan jalanan. Memakai piyama berwarna biru langit dan rambut panjangnya ia urai. Terlihat semakin polos saja.

            “Hm…, ada yang berubah denganmu.” Ujar Sura dengan wajahnya yang tetap tertunduk.

            “Kenapa? Kau tidak suka?”

            “Uh, bukan, bukan!” Kini dia melihat padaku, sepertinya dia takut kalau aku salah paham. “Aku hanya sedikit aneh saja. Kau sedikit…..uh, aku suka.”

            “Benarkah?”

            “He-em. Kenapa kau mengajakku keluar?”

            “Kenapa kau mau kuajak keluar?”

            “Apa kau kesepian? Kenapa tidak mengajak temanmu?”

            “Kenapa kau berani keluar rumah hanya untuk menemaniku?”

            “Kenapa tidak pergi bersama Sunhwa saja?”

            Ada apa dengannya? Kenapa harus membawa nama Sunhwa? Dia menutupi bibirnya sendiri, seperti telah tidak sengaja menyebutkannya.

            “Wae? Kau ingin tau tentang Sunhwa?” Kataku. Dia tidak menjawab. “Bukankah pernah kukatakan kalau aku hanya pernah menyukainya? Kini kau yang bersamaku, apakah aku masih harus mengajaknya pergi keluar?”

            “Tapi…., apa alasanmu berhenti menyukainya?” Aku menghela nafas panjang. Anak ini pasti penasaran dengan hal yang tidak penting.

            “Murahan. Itu alasannya.” Jawabku seadanya. “Dia memperlakukanku sama dengan yang lainnya dan aku tidak suka.”

 

            Sura POV

 

            “Dia memperlakukanku sama dengan yang lainnya dan aku tidak suka.” Ujar Himchan. Oh, ternyata dia senang dispesialkan? Aku memperlakukannya berbeda dengan yang lainnya, tapi mengapa perasaannya tidak berubah terhadapku? Memang benar kalau perasaan tidak bisa dipaksakan. “Ah, Sura, ada yang ingin kukatakan padamu.” Ujar Himchan lagi.

            “Apa?”

            “Sehari setelah ulangtahunmu…, aku akan pindah ke Seoul.” Terangnya. Jelas hal itu membuatku membulatkan mata tak percaya. Dia akan pergi? “Aku sudah mulai berpikir tentang masa depanku. Aku akan mencari peruntungan di sana.”

            “Tapi mengapa tidak di sini?”

            “Kau tau kalau di sana lebih mudah.”

            “Ah, ya….” Hanya dapat pasrah karena aku tidak bisa menahannya dengan kata-kata apapun. Sedih. Mengapa setelah ulangtahunku? Mengapa harus secepat itu? “Apa itu artinya kita….”

            “Hm, mau bagaimana lagi? Maafkan aku.”

            “Tidak apa.”

            Aku hanya dapat tersenyum seperti orang bodoh. Mungkin memang ini yang ia inginkan. Hal itu kebebasan bagi Himchan. Bebas, terlepas dariku.

“Himchan,” Panggilku.

            “Hm?”

            “Boleh aku minta satu permintaan?”

            “Satu, katamu?”

            “Aku janji tidak akan meminta apapun lagi.”

            “Baiklah, apa?”

            “Saat ulangtahunku nanti…, bisakah kau berpura-pura mencintaiku?”

            Permintaan bodoh, tapi aku hanya ingin memiliki kenangan indah saat terakhir bersamanya. Ya, tidak apa berpura-pura karena aku tau Himchan tidak akan pernah bisa mencintaiku.

 

***

 

Sept 11th

 

            Sejak sepuluh menit yang lalu, aku sudah siap menunggu di depan rumahku. Melihat ke bawah, memperhatikan lagi penampilanku dari bawah. Kupikir tidak ada lagi yang kurang. Daguku mendongak ke atas, memandangi langit yang sangat cerah. Tadinya hari ini sangat kutunggu-tunggu, tapi kini aku ingin memperlambat waktu.

            Kulihat Himchan mulai muncul dari ujung jalan. Aku tau khusus hari ini dia tidak akan membiarkanku menunggu terlalu lama. Dia berlari kecil saat sudah hampir dekat denganku. Saat sampai di hadapanku, entah mengapa aku malah tersenyum kikuk.

            Seperti biasa, di mataku dia selalu terlihat tampan. Tapi hari ini dia lebih tampan karena dia terlihat lebih rapi dari biasanya. Dia memakai jeans dan juga kemeja berwarna biru bermotif jangkar kecil. Aku yang memintanya.

            “Lama menunggu?” Tanya Himchan padaku. Kurasa dia pandai berakting. Tatapannya berbeda dari biasanya. Lebih hangat. Aku tersenyum dan mengangguk cepat. “Kita pergi sekarang kalau begitu.” Dia tersenyum, lalu mengulurkan tangannya. Aku meraihnya, lalu dia mengencangkan genggamannya, menarikku untuk segera berjalan. Rasanya jauh berbeda. Sudah lama aku mengidamkan keadaan seperti ini.

            Dia mengajakku pergi ke daerah Gwacheon-si. Kebetulan katanya sedang ada Seoul Grand Park Rose Festival yang merupakan acara  festival yang memperlihatkan keindahan bunga mawar. Jauh dari kata membosankan, bagiku pergi ke tempat itu sangatlah romantis. Aku tak menyangka Himchan akan membawaku ke festival ini. Disana terdapat 239 variasi mawar dan semuanya sangatlah indah.

            “Apa kita dapat memetiknya?” Bisik Himchan padaku.

            “Aku tidak tau.” Kataku setelah menaikkan kedua bahuku. Himchan memperlambat langkahnya, mengambil posisi di belakang tubuhku. Apa yang dia lakukan? Bersembunyi di belakang tubuhku?

“Ini.” Tiba-tiba saja sebatang mawar berwarna merah keunguan sudah ada di depanku. Himchan memberikannya dari belakang. Aku tertawa kecil, lalu mengambilnya. “Jika petugas menanyakan dari mana kau dapat bunga itu, jangan katakan itu dariku.”

            “Ish!” Dia hanya tertawa. Apakah ini saat terakhirku untuk melihat tawanya? Aku takutkan itu.

 

***

 

            “Jika kencan bersamaku, temanya selalu alam.” Ujar Himchan yang sedang melihat lurus ke depan sambil menikmati angin yang meniupi wajahnya. Aku memperhatikannya dan senyumku tak pernah memudar. “Kau tau alasanku, kan? Haha.” Aku tertawa kecil. Ya, wisata alam hanya memerlukan biaya yang sedikit, bahkan banyak yang gratis. Aku mengerti. Tapi hal itu bukanlah masalah. Asal bersamanya dan tetap dengan keadaan seperti ini rasanya sudah sempurna. Rasanya seperti kencan terbaik yang pernah kualami.

            Kuperhatikan Himchan begitu lelah. Setelah bermain di Seoul, kami kembali ke Busan. Kami hanya duduk di pinggir sungai sambil memandangi jembatan Gwangan yang terlihat bercahaya pada malam hari. Indah.

            “Apa suatu saat nanti kita dapat melakukan hal menyenangkan seperti ini lagi?” Tanyaku. “Ah, maksudku, apa aku dapat merasakan kesenangan seperti hari ini lagi? Bersamamu?” Himchan menatap padaku yang duduk di sebelahnya. Sedih. Hari ini terlalu menyenangkan sampai aku lupa kalau semua ini hanyalah sandiwara. “Pergi ke festival bersama, menelusuri jalanan Seoul bersama, pergi ke pusat perbelanjaan bersama, makan ice cream bersama?” Tapi Himchan menundukkan kepalanya, lalu tersenyum. “Aku lupa kalau aku hanya punya satu permintaan.” Kataku lagi sambil tertawa kecil. “Sudah terlalu malam. Kau harus istirahat untuk pergi besok.” Aku pun berdiri, disusul Himchan. Suasana berubah total. Bingung harus bicara apa, aku hanya dapat berbasa-basi dengan menepuk celanaku yang kotor.

            “Kuantar pulang?” Tawarnya padaku.

            “Rumahku dekat.” Kataku.

            “Sudah terlalu malam.” Pada akhirnya aku mengangguk saja. Kami pun berjalan menuju rumahku yang tak jauh dari sana.  Dia menggandengku lagi, tapi kami diselimuti keheningan sampai akhirnya tiba di depan rumahku. Tidak mungkin aku meminta permintaan agar Himchan tetap di sini. Dia pergi demi kebaikan hidupnya, aku tidak bisa melarang. Malam ini aku hanya ingin Tuhan menguatkanku untuk bicara banyak padanya. Banyak yang ingin kusampaikan, tapi rasanya lidahku lumpuh.

            “Senang mengenalmu, Sura.” Ujarnya tiba-tiba. Dengan berani aku menatapnya, menahan sedihku. Kalimat itu seharusnya dapat membuatku senang, tapi ini kebalikannya. Aku hanya dapat tersenyum untuk membalas perkataannya.

            “Terima kasih sudah mengajakku pergi hari ini.” Kataku, lalu berusaha lepas dari genggamannya, tapi…aku kembali menatap padanya ketika ia mempererat genggamannya pada tanganku. Dia menunduk. “Wae?” Tanyaku. Dia tidak menjawab, tapi sedikit membungkuk, mencondongkan wajahnya padaku, lebih dekat, lebih dekat lagi, tapi aku menahannya dengan menutup bibirnya dengan punggung jari-jari tanganku. “Terimakasih, tapi kau tidak perlu melakukan itu untukku. Sandiwaramu bagus sekali. Meskipun hanya berpura-pura, tapi aku sangat sena—-

            Rasanya jantungku berhenti berdetak ketika Himchan mendorong wajahnya hingga ia dapat mencium bibirku dari balik jari-jariku yang menghalangi kami.

            “Kau ingat satu-satunya alasan dimana aku akan menciummu?” Ujar Himchan yang sedikit memberi ruang antara kami. “Untuk yang satu ini aku tidak sedang berpura-pura.”

            “….”

            “Selamat ulangtahun, Sura. Aku pergi.”

Dia memundurkan langkahnya, menaikkan tangannya, lalu berbalik pergi. Perkataannya saat itu terus terngiang di telingaku. Apa itu artinya dia mulai menyukaiku? Daguku bergetar. Tangis yang kutahan sedari tadi rasanya tak tertahan lagi. Mengapa dia harus pergi disaat seperti ini? Dia sama sekali tidak berbalik. Kakiku ingin melangkah, berlari ke arahnya, tapi tidak bisa. Tak ada keberianian untuk menahannya. Mungkin memang harus berakhir seperti ini.Meski aku sangat berharap, tapi entah mengapa pikiranku selalu menggambarkan kalau aku tak akan pernah bisa bertemu dengannya lagi.

 

Sorry for my bad story…

TBC or END??? -__-

[FF] FAIRWALD

64

Image

Author : Ullzsura, Ditia, Hwgtf

Genre  : Romance, Sad

Cast     :

–          Kim Himchan

–          Kang Sura

–          Kim Yura

–          Yoo Youngjae

Special FF for my khmchn ♥

Mereka tak tahu apa yang telah terjadi. Mereka tak tahu apa yang sedang terjadi. Mereka tak tahu apa yang akan terjadi. Yang mereka tahu adalah mereka sama-sama tak tahu apa yang terjadi diantara mereka. Seorang pria menggeliat diatas ranjang. Ia mengerjapkan matanya, membiarkan pupil matanya mengatur cahaya yang masuk ke dalam matanya. Otaknya belum bekerja dengan baik. Kepalanya berdenyut, seperti terkena sebuah hantaman disana. Ia menghembuskan nafasnya. Bau menusuk khas pub malam menyeruak masuk kedalam hidungnya. Bau alkohol. Ia tak perlu berpikir keras tentang alasan mengapa kepalanya masih berputar-putar sekarang.

Efek alkohol menguasai sebagian penuh kesadarannya. Masih dengan mata yang belum terbuka sepenuhnya, Himchan mengubah posisi tubuhnya setengah terduduk. Ia memegangi tengkuk lehernya yang terasa pegal. Matanya terbuka lebar saat ia menolehkan kepalanya ke sebelah kanan. Ia meraba dadanya dan memeriksa kebawah selimut. Ia hanya mengenakan celana boxernya dan bagian tubuh atasnya tak terbalut sehelai kainpun. Ia menjambak rambutnya mencoba mengingat rangkaian kejadian yang telah terjadi padanya. Himchan menangkap sebuah memori yang berlarian di dalam otaknya. Oh, dia benar-benar mabuk semalam. Ia lepas kendali dan akhirnya melakukan semuanya…

Tanpa aba-aba, gadis itu mendesah, membuat gairah Himchan terbit kembali. Ia melemparkan bantal yang menyangga tubuhnya pada gadis itu. Ia bisa mengontrol hasrat dalam dirinya. Pikirannya berusaha menyangkal. Ia tak tahu apa yang benar-benar telah dilakukannya. Ia tak menginginkan hal itu tejadi. Oke, mungkin iya, Himchan menginginkan hal itu terjadi. Tapi bukan saat ini yang tepat. Dan bukan pada gadis itu. Apa yang akan ia jelaskan pada kekasihnya nanti? Yura pasti tak akan membiarkannya bernafas tenang setelah mengetahui Himchan telah menodai adiknya. Sebagian dirinya bergetar panik, sebagian dirinya lagi berusaha tenang mencari sebuah titik terang. Ia tak bisa membaca masa depan. Yang jelas, ia akan kehilangan seseorang yang special baginya jika tak menyerahkan diri untuk bertanggung jawab.

“Oppa..” Gadis itu mulai bersuara, suara seraknya menggelitik telinga Himchan. Membuatnya gelisah mengingat rekaman kejadian semalam. Ia masih mengunci mulutnya. Gadis itu memeluk perutnya dan menyenderkan kepalanya di dada Himchan. Pikirannya serasa dicabik. Apa yang telah ia lakukan pada gadis polos itu? Begitu lemahnya kah ia membiarkan para iblis memanipulasi pikirannya semalam? Gadis itu tersenyum dan semakin mempererat pelukannya. Ia tak minum bir sebanyak yang ditegak Himchan. Setidaknya daya pikir otaknya masih dua kali lipat lebih baik dari Himchan sekarang, walaupun ia tak mengingat apa yang telah mereka lakukan semalam. Yang terpenting dia tahu, tak ada satupun pakaian yang menutupi tubuhnya dan Himchan berada tepat disampingnya.

Ia bisa memastikan ada dua garis yang muncul saat ia menguji urinnya dengan sebuah testpack setelah ini. Keperawanannya hilang, karena Kim Himchan. Ia tak bisa mengendalikan hatinya untuk berteriak. Perasaannya meledak-ledak. Ia membiarkan imajinasinya berkeliaran. Dia melukiskan dengan jelas dalam pikirannya. Membayangkan Himchan mencium bibirnya, bahkan seluruh sisi tubuhnya. Membayangkan pelukan hangat yang ditularkan Himchan pada malam dingin itu. Membayangkan mereka melakukan semuanya sunggguh karena cinta.

Himchan akhirnya menyerah dengan kemelut otaknya. Ia sadar, menyesal takkan pernah mampu merubah kenyataan. Ia tetap diam. Ia benar-benar tak bisa mengungkapkan apa yang terjadi padanya setelah ini. Ia tak menyukai gadis itu. Ia hanya menganggapnya sebuah mainan, bukan sesuatu yang harus dipertanggungjawabkan.

“Oppa.. Kita menikah besok ya?”

“…..”

***

2 months later

Sura POV

Jantungku terus berdentum dengan keras saat melihat sosoknya. Takut, tapi sangat ingin memberitahu padanya tentang semuanya. Apa pendapatnya nanti?

Seperti biasa, aku hanya bisa melihatnya dari lantai 2 saat ia datang berkunjung ke rumahku. Ingin menghampiri, tapi aku hanya akan menjadi orang bodoh di sana. Aku sangat merindukannya. Jika saja ia berbalas merindukanku, aku akan melakukan apa saja untuknya. Karena masalah ini mungkin aku akan dipecat sebagai adik oleh kakakku.

Lupakan. Ya, aku lupa kalau aku harus melupakannya.

“Sura, bisa tolong ambilkan jaket Himchan di atas meja belajarku?” Teriak kakakku dari bawah.

“Ah, ya!” Teriakku. Dengan sigap aku pun masuk ke dalam kamar kakakku dan kutemukan sebuah jaket yang sudah terlipat rapi di atas meja belajar. Aku mengambilnya, lalu menghirup aroma jaket itu. Aroma tubuhnya hilang karena terlalu banyak kuberi pewangi pakaian. Melihat jaket di tanganku ini, lagi-lagi kuteringat saat Himchan meminjamkan jaketnya padaku karena hujan turun.

“Sura???” Kakakku berteriak lagi.

“Ya!!!” Aku pun berlari kecil keluar dari kamar, lalu menuruni tangga. Detak jantungku memacu lebih cepat lagi. Himchan. “Ini,” Ucapku, langsung memberikan jaketnya pada Himchan.

“Ah, terima kasih.” Ujarnya, tapi dia tidak menatapku sama sekali.

“Lain kali bersikap lebih ramahlah sedikit padaku, bunglon.” Kataku sebal. Kakakku hanya tertawa saat aku menyebut Himchan dengan sebutan bunglon. Aku hanya berusaha bersikap seperti biasanya. Yang kakakku tau, aku sering berseteru dengan Himchan. Jadi biarkanlah terus seperti ini.

***

Malam ini Yura eonni harus mengantar bibiku ke rumah nenek dan mereka akan menginap. Jika saja kedua orangtuaku masih ada, mungkin aku tidak akan sendirian seperti ini karena mereka tidak sering berpergian, tidak seperti bibiku.

Malam yang dingin ini tidak membuatku berniat absen untuk mandi. Menggosok rambutku yang basah dengan handuk, lalu keluar dari kamar mandi. Kulihat sepasang pakaian dalam bermotif leaf yang tergeletak rapi di atas tempat tidurku, tak lupa dengan pesan singkat bertuliskan ‘Jika tidak memakainya, kau tau akibatnya’. Aku tersenyum, sudah pasti pria mesum itu lebih leluasa jika tidak ada oranglain di rumahku. Ya, dia tidak perlu repot-repot untuk menyusup diam-diam masuk ke dalam kamarku. Segera kupakai piyamaku, lalu pergi keluar kamar. Kau harus menahan apa yang ingin kau lakukan, Kang Sura.

Kutemukan pria itu sedang duduk di atas carpet di ruang tengah, tengah menonton TV. Menarik nafas dalam-dalam, lalu aku pun menghampirinya.

“Apa yang kau lakukan di sini, oppa?” Tanyaku. Dia pun menoleh ke arahku.

“Yura yang menyuruhku kemari.” Jawabnya. Aku pun duduk di sebelahnya. “Minum ini.” Dia menyodoriku segelas susu coklat. Kulihat di meja terdapat satu gelas susu coklat lainnya. Itu pasti miliknya. Aku menahan tawaku. Tidak seperti biasanya pemabuk ini tidak minum alkohol pada malam ini. Bibirku tersenyum sendiri ketika mendengar suara hujan di luar. Sudah pukul 9 malam, tapi hujan tak hentinya turun. “Kau pasti akan kabur ke pub jika tidak ada yang menjagamu.” Lanjutnya. Aku hanya cemberut. Bodoh, aku ke tempat itu bukankah karena dia?

“Pulanglah, lagipula aku sudah siap untuk tidur. Mana mungkin aku pergi ke luar disaat hujan begini.”

“Yura menyuruhku menginap, jadi kau tidak bisa menyuruhku untuk pulang.”

“Apa?!” Sungguh tidak percaya. Rasanya seperti dimasukkan ke kandang singa oleh kakakku sendiri. Lalu aku harus bersusah payah untuk membangun benteng lagi?

“Wae?” Tanyanya. “Ha, kau takut padaku?” Dia benar-benar terlihat menyeramkan ketika mengeluarkan seringaiannya. Mendekati wajahku, lalu dengan terpaksa tanganku mendorong wajahnya untuk menjauh. “Whoa, ternyata kau bisa menolak sekarang.” Menyebalkan karena dia selalu mengingat bahwa akulah yang menyukainya pertama kali. Dia pikir aku tak dapat menghindar? Jika bukan karena kakakku, mungkin aku akan—

Himchan, kau memang bajingan.

Mataku terpejam dan keningku berkerut. Tangannya sungguh kuat menindih tanganku di atas carpet dan dia menyudutkanku pada sofa. Dia mencium bibirku tanpa sebuah aba. Gila. Tanganku tak dapat kugerakkan sama sekali dan aku tak dapat lagi menggerakkan kepalaku intuk menghindar. Nafasku tercekat karena dia menciumku terlalu dalam. Tak lama satu tangannya melepas tanganku, kupergunakan untuk mendorong dadanya, tapi tak ada pergerakan apapun darinya. Percuma, tenagaku tak seberapa. Tapi tangan nakalnya itu menarik piyamaku ke samping, membuat setengah bahuku terlihat. Kucoba lagi untuk mendorongnya karena aku tidak mau dia melakukan hal yang lebih lagi. Bukan karena tenagaku, tapi dia melepasku.

“Itu akibatnya,” Ujarnya setengah berbisik dengan mata yang tertuju pada bahuku. Ah bukan, tapi bra yang kupakai. “Aku tau kau tidak akan memakai apa yang sudah kusarankan.”

Aku menatapnya geram. Dia tau kalau aku tidak akan mengadukan perbuatannya pada kakakku. Apa ini sebabnya dia berani berbuat seenaknya padaku?

“Yaaah! Aku benci padamu!!!!” Teriakku, lalu kugigit saja bahunya. Terlalu menyedihkan ketika kau sadar bahwa orang yang kau cintai itu hanya menganggapmu sebuah mainan dan kau terjebak dalam permainannya.

***

 “Hanya dengan dua huruf dia dapat membuatku merasa menjadi pria paling beruntung di dunia. Kau yang sedang membacakan surat ini, terima kasih atas jawaban ‘ya’.”

Mungkin sekarang kakakku sedah berteriak di dalam hatinya. Ya, aku tau kalau dia telah menerima lamaran Himchan. Wanita mana yang tidak akan bahagia jika kekasihnya mengirimi surat seperti itu ketika ia sedang siaran. Himchan selalu seperti itu. Selalu rajin mengirimi kakakku surat saat jadwalnya kakakku untuk siaran.

“Sura, berhentilah melamun.” Tiba-tiba saja seseorang menarik headsetku hingga terlepas dari telingaku. Dia temanku, Youngjae.

Aku menjawabnya dengan senyuman tipis. Youngjae, dia pasti tau mengapa aku sedih seperti ini. Kulihat dia hanya menggelengkan kepalanya, lalu kembali meminum orange juice-nya. Baiklah, aku memang terlihat bodoh karena hal seperti ini. Sudah kucoba untuk melupakannya, tapi dialah yang selalu menggodaku. Bagaimana bisa aku menghindar?

“Kau tidak akan mengatakan apapun pada Himchan, kan?” Tanyaku untuk memastikan lagi. Harus kupastikan karena Youngjae kenal dekat dengan Himchan.

“Bukankah aku sudah berjanji padamu?” Ujarnya. Ya, tapi aku hanya takut. “Lupakan sajalah. Dia calon kakak iparmu, kau harus ingat itu.”

“Ya, aku mengerti.”

Tapi aku tidak menceritakan hal yang terlalu pribadi pada Youngjae. Aku tidak berani. Aku hanya berani mengatakan bahwa aku menyukai Himchan dan kami sering jalan bersama. Jika Youngjae tau semua yang telah terjadi antara kami, bisa-bisa aku mati.

“Lagipula apa kau tidak memikirkan perasaan kakakmu jika ia mengetahui segalanya?”

“Ya, ya, sudah kubilang aku mengerti, Youngjae.”

Tiba-tiba perutku terasa mual. Mulai frustasi, lalu aku pun meninggalkannya.

***

Himchan POV

Terkadang Sura mengusik pikiranku. Tapi sebenarnya apa yang seharusnya kukhawatirkan? Kupastikan Sura sadar kalau aku hanya senang menggodanya, bukan karena maksud lain. Awalnya terasa risih karena kehadirannya, tapi ternyata dia sangat menyenangkan. Mudah untuk digoda, mudah untuk diperintah. Kurasa masih ada waktu untuk bermain-main dengannya sebelum aku harus jauh lebih serius dengan Yura.

Bosan. Aku tau apa yang harus kulakukan untuk menghabiskan hariku yang membosankan ini. Segera kulajukan mobilku, berniat menyuruh seseorang untuk melakukan apa yang kuinginkan.

***

Sura POV

Merayakan ulangtahunnya dia bilang? Masih beberapa jam lagi menuju ulangtahunnya, tapi dia sudah memintaku untuk merayakannya lagi. Senang, tapi aku pun takut. Tapi aku menuruti kemauannya, menemaninya bermain di Lotte World. Aku tak dapat menolak karena dia datang langsung ke rumahku, tak mau pulang dan memaksaku untuk cepat mandi, dan seperti biasa dia menyiapkan pakaian dalamku.

“Sekarang kau mau kemana?” Tanya Himchan setelah kami menjelajahi wahana di luar.

“Istirahat?” Ujarku.

“Oke.” Dia menggandengku, sekedar menggandengku. Syukurlah hari ini dia belum macam-macam, setidaknya aku tidak perlu menggigitnya lagi. Menikmati pemandangan indah di luar setelah lelah bermain. Himchan mengajakku untuk duduk sebentar sebelum kami bermain lagi di dalam. Himchan menyuruhku untuk menunggu sebentar sendirian, lalu dia kembali dengan membawa ice cream strawberry, rasa kesukaanku. Aku tersenyum lebar menerima pemberiannya. “Kau senang?” Tanyanya. Aku mengangguk semangat, lalu mulai menjilati ice cream-ku.

“Lebih enak dari ice cream yang minggu lalu kita beli di dekat tea house tempat biasa kita bertemu.”

“Ah, yang dekat rumahmu itu?” Aku mengangguk. “Lelah? Kemarilah.” Tiba-tiba saja dia mendorong bahuku agar lebih dekat dengannya, lalu menyandarkan kepalaku pada bahunya. Canggung, tapi aku tidak merubah posisiku karena aku menyukainya. “Kau harus membayarnya nanti.” Lanjutnya.

“Apa?!” Perkataannya membuat kepalaku kembali tegak.

“Tidak dengan uang tentunya.” Aku mencibirnya, tau dengan maksudnya.

“Kau benar-benar seekor bunglon.”

“Dan kau kelinci percobaanku.” Aku mencibirnya sekali lagi. Bisa-bisanya dia berkata seperti itu padaku. Dia malah mentertawaiku. Lupakanlah. Aku tersenyum lagi karena ice creamnya sangat enak. “Cepat habiskan.” Mungkin dia ingin cepat bermain lagi, maka kupercepat memakan ice cream-ku.

“Oppa,” Panggilku.

“Ne?”

“Banyak yang ingin kutanyakan padamu.”

“Apa?” Sebenarnya terlalu banyak. Kini aku bingung harus menanyakan mana yang lebih dulu.

“Hmm, kenapa kau selalu menyiapkan pakaian dalamku? Kau seperti seorang….maniak.”

“Pfttt.” Dia malah menahan tawanya. “Pertama kali kulihat pakaian dalam bermotif berjejeran sedang dijemur. Yura memberitahuku kesukaanmu membeli pakaian dalam dengan motif yang berbeda-beda. Kupikir lucu. Aku hanya ingin memberikan sebuah aturan dengan cara memilihkan dalamanmu.

Ah, aku mengerti setelah mengingat kejadian malam itu, saat Yura eonni pergi dengan bibi. “Kau….menyebalkan.”

“Yaah, cepatlah sedikit.” Ujarnya lagi.

“Tidak bisakah kau sabar sedikit?” Kataku kesal.

“Aku hanya ingin bayaranku, kau tahu?” Mulai menyeramkan lagi. Ya, dia baik pasti ada maunya. Mendekatkan wajahnya padaku, aku tau apa yang akan ia lakukan. Tunggu. Dapat kurasakan sesuatu menggerayangi pahaku. Dia sudah berani—-

“Kyaaaaah!!!!!!”

Berteriak sekeras-kerasnya. Demi Tuhan aku membenci ulat bulu yang hinggap di pahaku itu!

***

“Kau puas hari ini?” Tanyanya. Aku mengangguk, lagi-lagi mataku tertuju pada kausnya yang kotor karena muntahanku. Masih merasa bersalah, menyesal mengajaknya naik jet coaster sebanyak 5 kali. “Setidaknya aku meninggalkan kesan baik di hari terakhir ini, kan?” Aku menatapnya bingung. Terakhir? “Wae? Kurasa sudah cukup aku bermain denganmu.” Ah ya, aku tau dia akan mengatakan hal seperti ini. Tapi bagaimana denganku? Aku belum berani mengatakan apapun padanya.

“Oppa, memangnya kau….uh, tidak jadi.” Selalu kehilangan kata-kata saat bicara dengannya.

“Kenapa?”

“Tidak.” Aku hanya menundukkan kepalaku dan mengepal rok-ku.

“Kenapa?”

“Apa aku tidak akan pernah bisa menggantikan posisi kakakku?”

“…..ahaha, kukira seharusnya kau sudah mengerti, Sura.” Entahlah, tapi saat ia tertawa rasanya aku ketakutan sekali. Kutebak dia tidak pernah memikirkan hal serius tentangku. “Bukankah sudah kukatakan kalau aku tidak akan meninggalkan Yura hanya demi kau?”

“Kau tidak mencintai kakakku, kan?”

“Bagaimana bisa kau mengatakan seperti itu?”

“Kalau kau mencintai kakakku, kau tidak akan melakukan semua ini padaku.” Kini pria di hadapanku terlihat lebih serius. Dia mendekatiku, matanya yang tajam tak lepas untuk memandangku.

“Lalu apa yang kau mau?”

“A-aku hamil.”

“…..” Seharusnya aku mengatakan hal ini sejak aku mengetahuinya beberapa hari yang lalu. Aku menunduk, merasa takut setelah melihat Himchan hanya terdiam, membuang wajah lalu tertawa sia-sia. “Kau pun tau kalau aku melakukannya tanpa kesadaranku. Kau pun begitu, kan?”

“Ya…, tapi apa yang harus kulakukan kalau sudah begini?”

“Kau bisa menggugurkannya. Setidaknya kau tidak akan mati di tangan kakakmu sendiri.”

Jangan menangis. Aku menelan ludahku. Aku tau Himchan tidak mencintaiku, tapi aku hanya tidak menyangka Himchan akan mengatakan hal seperti ini padaku. Rasanya harapanku sudah hancur. Pada akhirnya aku harus mengatasinya sendiri.

***

Author POV

Sura baru saja keluar dari kamar mandi dan mengeringkan rambutnya yang basah. Ia berjalan mendekati ranjangnya. Tak ada seperangkat pakaian dalam yang tergeletak disana. Tentu saja, mana mungkin pria itu akan melakukannya lagi. Sura membuka pintu kamarnya dan menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan seseorang di rumahnya. Sepi. Kemudian ia beralih masuk kedalam kamar kakaknya. Ia melihat seorang gadis yang berambut dikuncir satu sedang berbaring tengkurap diatas ranjang dengan laptop dihadapannya.

Sura melempar tubuhnya disamping gadis itu, ia mengencangkan handuknya saat akan terlepas.

“Eonni, kau tidak siaran hari ini?” Tanya Sura, mengusik kegiatan Yura.

“Aku lelah.” Jawab Yura singkat. “Bukankah ini hari sabtu? Ya Tuhan, aku menyesal absen siaran hari ini. Jam berapa sekarang?” Yura melirik clock gadget di layar laptopnya. Angka digitalnya menunjukkan pukul 09.13. “Sekarang pasti temanku sedang membacakan surat dari para pendengar. Kau tahu, pasti dia akan mengirimkan curhatannya lagi dan menceritakan ulangtahunnya yang kami rayakan tadi malam.”

“Cepat nyalakan radio dan dengarkan curahan hati pangeran bunglonmu!” Seru Sura yang berusaha bersikap seperti bisanya, ikut tertarik jika kakaknya sedang bicara tentang pujaannya sendiri. Yura menurut dan langsung menyalakan radionya.

“Aku menghabiskan hariku dengan kelinciku kemarin…” suara Jiyeon, salah satu penyiar radio yang menggantikan tugas Yura saat ini mulai terdengar ketika Yura pertama kali menekan tombol On diradionya. Ia telah mengatur frekuensi radio favoritnya. Yura berteriak senang saat ia menyadari ia belum terlambat mendengar curhatan pria pujaannya. Sura ikut mencuri-curi mendengarnya. Kelinci? Siapa penulis surat itu? Apakah si bunglon itu?

“…aku senang, dia tak menggigitku. Aku senang dia tersenyum untukku. Aku senang dia

menyenderkan kepalanya di bahuku. Sebenarnya, tak semenyenangkan itu. Ia masih memanggilku bunglon…” Sura bersiap bangkit dari ranjang Yura sebelum gadis itu menariknya agar duduk kembali. Yura menatapnya dengan tatapan menginterogasi. Hanya Sura yang memanggil pria itu dengan sebutan bunglon. Jantung Sura berdetak tak karuan. Ia tak mau dianggap musuh dalam selimut oleh kakaknya, dan ia menyesal karena telah berurusan dengan calon suami kakaknya itu. Kemudian Sura membuka mulutnya, hendak mengatakan alasan apa saja yang mungkin dapat membebaskannya dari amukan Yura. Tapi dengan cepat Yura menutup mulut adiknya itu, ia ingin mendengarkan lebih jauh isi curhatan calon suaminya itu.

“…well, kami merayakan ulangtahunku kemarin. Hanya berdua. Kurasa dia sedang kerasukan malaikat kemarin, ia tak menolak ajakanku untuk pergi ke Lotte World. Oke, dia sangat berbeda kemarin. Tak ada pertengkaran diantara kami, tanganku tak tergores sedikitpun akibat gigitannya. Semuanya berkatku, aku tak memulai untuk menggodanya.”

“…..Aku tak bisa melipat senyumku saat ia tertawa lepas. Matanya yang seperti bulan sabit saat tersenyum telah berhasil menyihirku. Aku tak mampu mengalihkan pandanganku darinya. Hampir saja aku menciumnya jika tak ada ulat bulu yang tiba-tiba jatuh di pahanya. Dia menjerit kencang seperti biasanya. Itu terlihat menggelikan. Kalau boleh jujur, aku tak suka menjelajahi Lotte World. Tapi karena dia aku merasa ketagihan menaiki beberapa wahana disana. Dia mengajakku naik jet coaster sebanyak lima kali. Perutku terasa diaduk-aduk dan isinya hampir keluar. Sepertinya dia merasakannya juga dan sialnya ia tak bisa menahannya. Aku harus merelakan bajuku terkena muntahannya. Aku tak memprotes karena ia meminta maaf padaku, hal yang sama sekali tak pernah kubayangkan. Dia juga mengatakan akan mengabulkan satu keinginanku. Dia pikir dia seorang Genie?”

Hello my sweety rabbit, kau mendengarku? Pakai motif kelinci berwarna merah untukku hari ini ya? Dandanlah yang cantik. Kutunggu kau di tea house tempat biasa kita bertemu. Jangan menyuruh kakakmu menggantikanmu, mengerti? Dan.. jangan mengamuk jika aku menciummu nanti, adik iparku.”

“…………”

“Kau siap menjelaskan semuanya, Kang Sura?” Ujar Yura yang terlihat benar-benar marah pada adik satu-satunya itu.

***

            “Aku tidak melakukan apa-apa.” Jelasku berulang kali, bahkan aku menangis di hadapannya yang juga sedang menangis. “Eonni, kau harus percaya kalau tidak ada apa-apa di antara kami. Kalaupun iya, tidak mungkin Himchan oppa terang-terangan seperti itu di radio.” Uraiku.

“Aku akan menyuruhnya kemari. Dan kau, jangan coba-coba untuk menghubunginya.” Ujarnya yang langsung mengambil ponselnya, lalu menghubungi Himchan. Aku begitu takut untuk mengetahui apa yang akan terjadi. Tadi dia bilang dia menunggu di tea house. Apa aku harus pergi ke sana?

Kim Himchan, apakah dia sadar dengan apa yang dia lakukan barusan? Bagaimana pun juga aku harus bertemu dengan Himchan sebelum kakakku bertemu dengannya. Ya, aku harus pergi. Tanpa berpikir panjang lagi, aku berlari melarikan diri. Entah jalan yang kuambil ini bodoh atau apa, tapi di pikiranku hanyalah ‘aku harus bertemu dengannya’.

“Yah! Sura!”

Terdengar dengan jelas kakakku berteriak memanggilku. Aku tau dia pun berlari mengejarku. Tapi apakah dia dapat berlari menyusulku? Tentu tidak karena dia pun tau kecepatan berlariku jauh lebih unggul darinya. Pikiranku mulai kacau ketika memikirkan harus naik taksi atau tidak. Alasan pertama untuk tidak naik taksi, tentu karena aku tidak membawa uang. Alasan kedua, aku tidak mau diam untuk menghentikan taksi, membiarkan kakakku berkesempatan untuk menangkapku. Maka aku terus berlari. Kakiku berlari ke arah gang kecil, berusaha menghilangkan jejak darinya.

Tentu aku berhasil. Beruntung karena banyak jalan pintas untuk sampai ke tea house itu. Dengan nafas terengah-engah, senyumanku merekah karena tea house itu sudah dapat kulihat. Tapi….sesuatu membuat senyumku pudar. Aku pun segera mendekat, memasuki teras tea house itu dan menghampiri seseorang yang kukenal.

“Ternyata kau menangkap pesanku.” Ujarnya, membuatku tak percaya. “Kenapa? Kau terkejut?” Aku tak dapat berkata apapun. Dengan santainya dia menatapku. “Duduklah dulu.”

“Apa maksudmu?”

“Duduk saja kalau kau ingin tau maksudku.”

Aku tidak suka berlama-lama disaat posisiku sedang terdesak seperti ini. Takut kalau kakakku menemukanku. Maka akhirnya aku pun duduk, menuruti apa katanya.

“Pesan apa maksudmu?” Tanyaku.

“Pesanku di radio. Apa lagi?”

“Bagaimana bisa kau…..”

Tidak tau harus berkata apa pada Yoo Youngjae, temanku itu. Aku benar-benar tidak mengerti mengapa ia bisa melakukannya.

“Aku tidak sengaja melihatmu sedang bersama dengannya di Lotte World.” Ujar Youngjae. “Sikap kalian membuatku terpaksa mengikuti kalian dan akhirnya mengetahui semuanya. Sesuatu yang busuk mau disembunyikan sedemikian rupa pun akan tercium baunya, Sura. Memang sudah saatnya kebusukan kalian terungkap, bukan?” Aku diam, tidak bicara sepatah kata pun. Ya, pada akhirnya akan ketahuan juga. Aku tidak dapat melakukan apapun lagi. “Kau tau jelas kalau aku sempat menyukai kakakmu. Sejujurnya…, sampai sekarang. Maaf, tapi aku tidak bisa diam saja setelah kutau kelakuan kalian di belakangnya. Dan aku sungguh tidak percaya padamu, Sura. Kau melakukannya dengan Himchan? Apa kau tidak memikirkan kakakmu sama sekali?”

Aku tak dapat membela diriku sendiri. Disini memang akulah yang salah. Sekesal apapun aku pada Youngjae, aku tak dapat menyalahkannya.

***

            Bugh!

Satu hantaman lagi yang mendarat di pipi Youngjae. Menyesal karena aku telah memberitahu pada Himchan siapa pengirim surat itu. Ingin melindungi Youngjae, tapi Himchan menghalangiku. Bagaimana pun Youngjae sahabatku dan masalah ini memang salahku.

“Yah, aku tidak tau kalau kau benar-benar tidak tau malu.” Ujar Youngjae yang mencoba bangkit kembali setelah sedikit tersungkur akibat pukulan Himchan.

“Berhentilah mengurusi urusan orang lain.” Ujar Himchan, lalu menarikku pergi. Aku menoleh ke belakang, memandangi Youngjae yang memegangi rahangnya.

“Oppa, seharusnya kau—“

“Tidak akan seperti ini kalau dia tidak melakukan hal bodoh seperti itu.” Ujarnya yang memotong perkataanku. “Yura begitu marah padaku, sementara aku tidak tau apa-apa. Dan ternyata semua ini ulahnya.”

“Sekarang apa yang harus kita lakukan?”

“Kau sudah melakukannya? Aku tidak mau masalah baru muncul jika Yura tau kau sedang hamil.” Aku menggelengkan kepalaku ragu. “Haish…” Himchan terlihat sangat kesal dan aku takut. “Kalau begitu aku yang mengantarmu sekarang.” Dia kembali menarik tanganku. Mataku terbelalak. Menggugurkannya? Sekarang?

“Oppa…” Aku berusaha menahan tarikannya. Aku benar-benar ketakutan. Tangisku pecah begitu saja. “Oppa…,” Panggilku lagi, berharap dia berhenti untuk mendengarku. “Kumohon…”

Dan dia menghentikan langkahnya. Aku terus berdo’a, berharap Himchan bersabar sebentar saja. Aku benar-benar tidak siap untuk melakukannya. Kulihat Himchan berbalik ke arahku, memandangiku yang tengah menangis tersenggak-senggak.

“Aku berjanji akan melakukannya. Tapi tidak sekarang….” Ujarku lirih.

“M-maafkan aku.” Menyentuh kepalaku, lalu memelukku begitu saja. “Tidak usah lakukan itu.” Semakin deras saja air mataku, merasa lega karena akhirnya Himchan memelukku.

***

Aku tidak tau apakah ini keputusan yang benar atau salah. Kini aku hanya meringkuk di atas kasur yang bagiku tidak nyaman. Tentu, karena ini bukan tempat tidurku sendiri. Kesal, sampai-sampai tanganku memukuli perutku sendiri. Batinku sangat menyesali mengapa semuanya harus terjadi seperti ini. Jika saja aku tidak terlalu bodoh, tidak mementingkan perasaanku sendiri. Apa yang akan terjadi jika Yura eonni tau apa yang ada di dalam perutku? Aku tidak mempunyai keberanian untuk menggugurkannya, juga memberitaukannya. Jika oranglain mungkin sudah memutuskan untuk bunuh diri saja, tapi untuk mengambil keputusan itu aku jauh lebih tidak berani.

Melarikan diri untuk sementara, entah bagaimana nasibku pada akhirnya. Aku hanya ingin menghilang dari kehidupan mereka. Jika bisa, bukan hanya untuk sementara, tapi selamanya. Tapi aku hidup dengan apa? Sewa motel untuk semalam ini saja sudah menguras uang persediaanku.

Air mataku tak berenti mengalir sedari tadi. Keadaan ini membuatku gila. Mengapa aku harus mencintai orang yang salah? Sudah jelas Himchan tidak akan membantuku untuk urusan ini. Aku putus asa. Menyerah.

Himchan POV

Kepalaku rasanya selalu sakit akhir-akhir ini. Malas, tapi hari ini aku harus kembali menemui Yura, meminta maaf sampai dia memaafkanku. Entah alasan apa lagi yang harus kujelaskan padanya. Kulangkahkan lagi kakiku, mulai memasuki halaman rumah Yura. Mungkin aku juga akan bertemu dengan Sura. Menghela nafas panjang, lalu bersiap untuk mengetuk pintu.

Cklek!

Pintu terbuka sebelum aku mengetuknya. Yura membuka pintunya terlebih dahulu, benar-benar mengagetkanku.

“Mau apa lagi kau?” Tanya Yura. Matanya masih tersimpan amarah yang besar padaku.

“Bukan aku yang mengirimnya. Kau bisa tanyakan Sura, tidak ada yang terjadi di antara kami.” Tegasku lagi.

“Jangan berani-berani membodohi aku lagi, Himchan.” Matanya kembali berkaca-kaca. Mulai kebingungan apa yang kini harus kulakukan.

“Tanya apapun pada Sura dan aku sekarang. Tanya apapun sampai kau percaya.”

“Haha, aku tidak akan pernah percaya padamu lagi, Himchan.”

“Dimana Sura?”

“Kukira seharusnya kau tau setelah bertemu untuk berkompromi?”

“Aku tidak bertemu dengannya. Tidak bisakah kau percaya padaku? Panggil Sura dan kami akan jelaskan apapun yang ingin kau tau.”

“Tidak ada. Tidak usah mencarinya.” Keningku mengkerut, bingung dengan apa yang Yura katakan. “Sejak kemarin siang dia menghilang. Kabur, mungkin.”

“Dan kau tidak mencarinya?”

Yura hanya diam, memandangku kesal. Tapi kini aku jauh lebih kesal padanya. Segera kutinggalkan tempat itu.

“Himchan! Kau sendiri yang membuatku semakin tidak percaya padamu!” Teriaknya. Aku tidak menoleh sama sekali. Mungkin kini dimata Yura, Sura menghancurkan semuanya, tapi tidak memperdulikan adik satu-satunya yang kabur sungguh membuatku tidak percaya.

***

Sura POV

Tidak paham mengapa terik matahari tiba-tiba saja datang saat aku harus menelusuri jalan panjang ini, tanpa tujuan. Kemarin cuacanya tidak sepanas ini. Tas yang kubawa terasa semakin berat saja. Lelah, ditambah perutku terasa sakit. Lapar. Tanganku memegangi perutku. Ah, tapi biarkan saja yang di dalam kelaparan. Atau….soju.

Kakiku melangkah ke sebuah kedai. Memutuskan untuk mampir sebentar sebelum pergi ke luar kota. Aku memesan sebotol soju, memaksakan diri untuk menghabiskannya sendiri. Aku hanya ingin menghancurkan apa yang yang ada di dalam perutku.

~~~

Kepalaku terasa berputar-putar. Perutku mual, rasanya ingin muntah. Satu teguk lagi, lalu aku akan pergi dari tempat ini. Ya, aku akan pergi ke kota lain.

“Kau harus menghilang…hng…” Sadar kalau aku melantur sambil memukuli perutku lagi. Tanganku yang satunya kembali meraih gelas, berniat untuk minum lagi.

“Yah, apa-apaan kau?” Terkejut ketika seseorang menarik tanganku. Samar aku melihat Himchan yang menarikku. Ya, dia memang Himchan. Bagaimana bisa dia menemukanku?

Dia menggenggam pergelangan tangan kananku kencang sekali. Sakit. Mata kami tidak ditolehkan pada pandangan yang lain. Kepalaku pusing. Dadaku terasa sesak melihat matanya yang terus menatapku tajam. Kembali kutarik tanganku, tapi tidak bisa.

“Apa yang kau lakukan?” Tanyanya dengan nada rendah.

“Lepaskan.” Ujarku lemah. Pipiku terasa basah begitu saja, tak sadar kalau aku telah menangis.

“Pulang denganku.” Kepalaku menggeleng lemah, kembali berusaha menarik tanganku, namun tetap saja tidak ada hasilnya. Dia menarikku untuk ikut dengannya, sekuat tenaga kutahan. Mengapa dia harus menemukanku? Dadaku semakin terasa sesak hingga tangisku pecah. Semakin melemah, hingga akhirnya terjatuh saat ia kembali menarikku.

***

Perlahan mataku kembali terbuka. Samar. Sinar terang menghalangi penglihatanku. Kepalaku kembali terasa sakit, rasanya ingin membentur kepalaku pada dinding. Tubuhku terasa pegal, sedikit sakit ketika digerakkan. Mataku mencoba memperhatikan sekelilingku. Ini bukan kamarku. Saat kulihat foto kakakku di samping televise, aku tau siapa pemilik kamar ini.

Cklek~

Langsung kubangkitkan setengah tubuhku saat pintu terbuka. Sialnya, dia menahanku saat akan beranjak dari atas tempat tidurnya.

“Apa kakakku ada di luar?” Tanyaku. Dia menggelengkan kepalanya. “Jangan bawa aku pada kakakku.” Lanjutku, kembali berusaha untuk pergi, tapi dia menahan lagi tanganku.

“Untuk apa kau pergi?” Tanyanya. Himchan tampak berbeda. Dia begitu dingin, serius dan kini kepalanya terus tertunduk.

“Memangnya kenapa? Yura eonni mencariku? Apa dia memaafkanku?”

“Jika dia memaafkanmu, lalu apa kau akan pulang?”

Aku tersenyum tipis padanya. Dia pikir mudah untuk menjadi orang yang kalah? “Tidak. Lagipula kenapa melarangku untuk pergi? Aku hanya pergi, tidak melakukan hal macam-macam lainnya. Kalau ingin kembali, nanti juga aku akan kembali.”

“Yah, Kang Sura,”

“Apa?”

“Menikah denganku.”

“…….”

Apa dia sudah gila?

***

Pria itu terus menarikku, memaksaku untuk kembali ke rumah. Masih tidak mengerti dengan apa yang ada di pikirannya. Kini aku begitu takut, takut kalau Himchan akan bicara sesuatu yang akan membuat kakakku semakin marah padaku. Giliran aku mengalah dan memutuskan untuk pergi, tapi mengapa ia begini? Padahal tidak ada ruginya jika aku pergi.

Sampai sudah di depan pintu rumahku. Himchan menekan bel berkali-kali. Detak jantungku semakin cepat tak karuan. Kucoba untuk menghentikan Himchan, tapi dia tidak menggubrisku sedari tadi. Aku masih menangis. Mendatangkanku pada kakakku sama saja cari mati.

Cklek~

Mataku langsung tertuju pada apa yang ada di hadapanku. Kakakku.

“Kau mencarinya?” Tanya kakakku tiba-tiba pada Himchan. Kulihat Himchan akan mengatakan sesuatu, tapi digagalkannya. Apakah ia kesulitan mengatakan hal itu? “Untuk masalah ini aku tidak salah, kan?”

“Ya. Kau tidak salah.” Ujar Himchan yang akhirnya bersuara juga. Tangan kirinya masih menggenggam erat pergelangan tangan kananku dan aku begitu ketakutan ketika kakakku melihatnya. Tangan kanan Himchan meraih tangan kakakku secara tiba-tiba. Aku sangat kaget ketika dengan mudahnya ia menarik cincin pertunangan mereka dari jari Yura eonni. “Tidak usah memakainya lagi. Maafkan aku.” Lanjut Himchan. Mata kakakku berkaca-kaca, sedih sekaligus marah.

“Jadi apa maksudmu?” Tanyanya lirih.

“Aku mendekati Sura.” Perkataannya kembali membuat jantungku memacu dengan cepat hingga tanganku berkeringat. Dia menyelipkan jari-jarinya di antara jari-jari tanganku dan ia mengeratkan genggamannya pada tanganku saat ia mengatakan hal itu. “A-aku telah menghamili Sura.”

Mati kau, Sura. Mata Yura eonni membulat, dia pasti telah sampai pada titik puncak kemarahannya. Dapat kulihat matanya memerah dan air matanya jatuh dari sana. Yura eonni menatapku tajam, tapi Himchan maju untuk menghalangiku dengan tubuhnya.

“Ini salahku, Yura.” Ujar Himchan.

“Kau benar-benar….,”

Plak!

Tersentak ketika kakakku menampar Himchan keras sekali.

“Kau gila, Himchan!” Kakakku mulai berteriak padanya. Lagi-lagi aku menangis. Aku memang tidak tau diri.

***

Pria itu berlutut di hadapanku yang terduduk di atas tempat tidurnya. Ia memegangi tangan kananku. Matanya terlihat sedih saat menatapku. Aku takut dia terpaksa melakukan semua ini. Padahal aku bisa saja mengalah.

“Aku tidak apa-apa. Seharusnya jangan bicara tentang masalah itu pada Yura eonni.” Kataku. “Kau memang bodoh. Bukankah dari awal sudah kubilang kalau aku akan bungkam? Kalian menikah pun aku tidak akan membiarkan kakakku tau kalau aku hamil.”

“Ya, aku memang bodoh. Bodoh karena baru sekarang otakku berpikir kalau aku lebih menyukaimu dibanding kakakmu.”

“….”

“Aku mendekatimu bukan tanpa alasan, Sura. Kau sangat menarik. Kecelakaan karena mabuk saja kau masih sempat memintaku untuk menikahimu. Bahkan berani berkata kalau kau menyukaiku. Kupikir aku hanya sekedar tertarik, tapi apa kau tau betapa khawatirnya aku saat tau kau pergi dari rumah? Kupikir aku tidak akan peduli padamu, tapi aku benar-benar takut.” Tangannya yang menggenggamku begitu dingin. Dia tidak sedang mempermainkanku, kan?

“Apa yang kau takutkan?” Tanyaku.

“Takut tidak bisa melihatmu lagi. Takut terjadi sesuatu padamu.”

“Tapi kau tidak takut kehilangan sesuatu yang berharga bagiku. Apa kau tau? Aku begitu putus asa saat itu. Aku tidak pernah membayangkan hal ini akan terjadi padaku. Siapa yang pernah membayangkan mencoba membunuh bayinya sendiri? Aku tidak pernah mau jika bukan karena terpaksa.” Lagi-lagi air mata ini mengalir dari sudut mataku. Himchan semakin erat menggenggam tanganku, kepalanya tertunduk hingga tertahan pahaku.

“Maafkan aku.” Ucapnya.

“Aku tidak suka melihatmu terpaksa seperti ini, oppa. Lebih baik tidak usah bersamaku kalau kau terpaksa.”

“Aku tidak terpaksa. Memang seharusnya begini. Nanti biar aku yang bicara pada bibimu. Aku juga akan bicara pada orangtuaku.”

“Bagaimana bisa?”

“Bisa, karena aku memang harus bertanggung jawab, kan?”

“Kau akan bicara masalah itu?” Dia mengangguk. “Jangan.”

“Kenapa? Kalau mereka marah besar, kita bisa pergi berdua.”

“Aku takut.”

“Sura, apa kau mencintaiku?” Aku mengangguk pelan. “Bagaimana dengan tawaranku sebelumnya? Kau mau?” Lagi, aku mengangguk. “Percayakan semuanya padaku kalau begitu.” Ujarnya, lalu tiba-tiba saja menangkup kepalaku dan mencium keningku.

Perubahan yang drastis untuk seorang Kim Himchan. Seharusnya sulit dipercaya kalau dia mempunyai rasa ketertarikan yang lebih padaku, tapi entahlah, aku hanya percaya kalau hati kecilnya memang menginginkanku.

–END–

Rcl? Allonia Devonne setelah ini ya 🙂