Calypsora pt.1

1

PicsArt_08-01-11.55.04 (2)

Author : Ullzsura

Genre  : Romance

Cast     :

–          Damina (OC)

–          Ong Seongwoo

Other cast:

–          Sienna

687474~1

 

Sejauh ini, ada satu moment yang paling kubenci. Itulah saat ketika suara yang dapat kudengar hanyalah suara dalam diriku sendiri. Apa kau pernah mendengar nafas yang mendengung di kepalamu karena kau tahan? Sekali saja kau bernapas, maka suara dari mulutmu pun akan ikut keluar dan begitulah isak tangis tercipta. Tidak, kali ini aku masih bertahan. Aku masih menggigit bagian dalam bibir bawahku dan mulai kurasakan daguku bergetar. Aku benar-benar membenci ini. Akan kulakukan secara perlahan, menghela napas pelan, lalu mulai menggelengkan kepalaku.

“Tidak mau.” Ucapku. Entah ekspresi seperti apa yang kuperlihatkan saat mengatakannya. Isi kepalaku benar-benar berantakan. Apa aku harus terlihat tegar sehingga ia akan merasa kehilangan, atau harus terlihat memprihatinkan agar dia kasihan padaku? “Bahkan kalau kau sibuk, aku benar-benar tidak akan mengganggu.” Tegasku.

“Bagaimanapun juga aku tetap akan pergi.” Lelaki di hadapanku itu mengangkat tasnya dan menggantungnya di bahu kanannya. Tak ada sedikitpun kepedulian di matanya, tanda bahwa aku harus berhenti menahannya. Daguku bergetar hebat dan mataku tak sanggup lagi melihatnya. Suasana ini membuatku gelagapan dan berakhir degan menunduk.

“Kan sudah kubilang, aku tidak apa-apa.” Kataku pelan, berusaha sekali lagi meyakinkannya.

“Sudah kubilang tidak bisa. Percuma, yang kulakukan hanya menyakitimu saja.” Ucapnya, masih dengan tatapan dingin. Ia tetap bersih-keras untuk pergi.

“Memang tidak berniat untuk berusaha.” Kataku, dengan suara yang makin mengecil. Aku tak berani mengangkat daguku lagi.

“Maaf…”

Ah, begini rasanya dibuang. Rasanya percuma untuk menahannya lagi karena ia terus-terusan beralasan.

“Ya sudah. Pergi saja.” Kataku pada akhirnya.

Badanku berbalik begitu saja dan berjalan masuk ke dalam kamar. Kututup pintu perlahan, entah kenapa. Aku tidak ingin menunjukkan kekesalanku. Aku terlalu takut untuk melakukan sesuatu yang sekiranya akan berakibat fatal. Kudengar suara langkah kakinya yang menjauh dan suara pintu depan yang dibuka, tak lama kembali tertutup. Ia benar-benar pergi. Kuharap aku tak pernah menyesal karena tidak mati-matian menahannya. Aku harus tetap sadar yang mana berjuang, yang mana memaksakan keadaan.

Bagaimana ya, menjelaskannya? Mungkin aku adalah salah satu orang patah hati yang sedikit menjijikkan karena merasa akulah orang yang paling menderita di dunia ini. Tapi setelah kehilangan beberapa orang yang pernah kusebut sahabat, kehilangannya pun membuatku merasa benar-benar sendirian. Ditinggalkannya membuat pikiranku rusak. Ditinggalkannya membuatku berpikir bahwa aku benar-benar buruk sehingga tak ada seorang pun yang bersedia untuk tinggal. Begitulah pemikiran yang pada akhirnya membuat tangisku pecah juga. Bagaimana awal pertemuanku dengannya terputar ulang begitu saja di kepalaku. Yang sudah kulakukan dengannya memang sangat fatal. Sudah sepatutnya aku menyesali semuanya.

 

“Kalau dia tampan, lebih baik kupacari.” Bisik Sienna padaku. Sikutku mengenggol miliknya cukup kuat.

            “Kau menjijikkan.” Kataku. Pikiran kakakku tentang pria tampan kadang membuatku geleng kepala. Yang benar saja. Setampan apapun orangnya nanti, tetap saja dia akan menjadi saudara tirinya.

            Ah, dia datang!

            Ayah menjemput mereka. Aku dan Sienna sibuk mengintip dari jendela. Kabarnya lelaki itu seumuran dengan Sienna. Tandanya satu tahun lebih tua dariku. Dapat kulihat sosok tingginya keluar dari dalam mobil dan membantu membawakan tas ibunya. Ah ya, lumayan.

            Mereka mulai mendekati pintu depan dan kami sibuk berlari ke arah ruang tamu. Kami berdua duduk manis seperti orang bodoh sampai akhirnya pintu terbuka. Kami menoleh ke arah sana dan tersenyum canggung, tapi tidak dengan lelaki itu. Ia berbeda dari yang kulihat dari kejauhan. Dengan cerianya ia melambai-lambaikan tangannya pada kami. Kau tahu, senyumannya adalah point utamanya. Begitu senangnya ia menjadi bagian keluarga kami?

            Ong Seongwoo. Dia sedikit aneh bagiku.

            “Akan kupacari.” Bisik Sienna lagi yang kali ini pikiran kotornya membuatku risih.

            “Kau menjijikkan.” Ucapku dengan kata yang sama.

Pada kenyataannya, akulah yang menjijikkan.

 

– If loving you is wrong, I don’t wanna be right
If being right means being without you, I’d rather be wrong during life –

 

read part 2 on wattpad: ullzsura

thanks for reading ❤

Advertisements

[!!!] move

14

Hallo!
Setelah sekian tahun berhenti update FF, sekarang ullzsura kembali hehe. Belum bisa janji update FF lagi, tapi yang pasti sekarang saya pindah ke wattpadd, ya. Bisa follow dengan uname yang sama, ullzsura. Yang beda, sekarang ullzsura mengganti seluruh cast FF nya, ya. Dari Himchan B.A.P x Ulzzang Kang Sura beralih ke Wonwoo Seventeen x Model Lim Bora. Jadi untuk Carats, bisa dibaca ulang sambil mengenang ceritanya, ya hehe 😦

Untuk BABYs, jika ada FF baru dan sesuai dengan chara HimchanxSura tetap akan dipost di wordpress, ya. Terima kasih sudah menunggu~!

with love,

ullzsura

[Teaser FF] CAESURA

32

Author : Ullzsura & Cipani

Genre  : Romance

Cast     :

  • Kang Sura
  • Kim Himchan
  • Yoo Youngjae

    Lelah, padahal pekerjaanku tidak sebanyak dan serumit guru yang lain. Lorong kelas terasa panjang setiap kali aku melewatinya dikala pulang. Dan Kim Himchan, kenapa hari ini mataku terasa sering melihatnya? Wajahnya tertutupi loker yang tengah dibukanya namun aku dapat mengenali rambutnya.

    Tentu saja berusaha ku acuhkan. Aku masih kesal dengan insiden tadi pagi. Tapi gagal. Aku lupa ada satu anak tangga kecil yang menjadi pembatas antara loker dengan lorong kelas. Dan terjadi lagi. Tempat yang sama, jam yang sama dan posisi terjatuh yang hampir sama, hanya saja disaksikan oleh orang yang berbeda.

    “Aduh!”

    “Seonsaengnim? Kau baik-baik saja?” ia memasang posisi setengah berlutut dengan wajah khawatir yang membuat mataku tidak bisa berhenti untuk menatap wajahnya. Aku tidak pernah tahu kalau anak yang sering dibicarakan para guru karena kepintarannya ini dapat sebegitu menarik.

    “Tentu saja. Hanya kecelakaan kecil, Yoo Youngjae.” ucapku sambil berusaha untuk bangun. Bukan mencari perhatian atau apa, sungguh, tapi aku tidak dapat berdiri.

    “Kau tidak baik-baik saja, Kang seonsaengnim. Mari aku bantu.” ujarnya sambil membantuku untuk berdiri. Kulihat temannya dari kejauhan berteriak, mengingatkannya untuk bergegas karena telah ada yang menunggunya.

    “Kalian pergi duluan, aku menyusul.” ucap Youngjae singkat kemudian kembali berfokus padaku. “Sepertinya kau harus kembali ke ruanganmu, seonsaengnim. Aku bisa jika harus memijat.” dan senyumnya telah menyihirku.

    Baiklah, sekarang bukan saatnya untuk mengenang masa lalu. Tapi biar kuulangi, kini aku terjebak dalam situasi yang sama dengan kejadian 4 bulan yang lalu. Tempat yang sama, jam yang sama dan posisi terjatuh yang hampir sama, hanya saja disaksikan oleh orang yang berbeda. Juga dengan respon yang berbeda pula.

    Kim Himchan. Satu menit telah berlalu—kuhabiskan dengan mengingat masa lalu—dan ia masih tetap pada posisinya, berdiri dengan tangan kiri yang tengah memegang pintu loker sambil menatapku. Jika aku bersabar lebih lama lagi apa ia akan mengulurkan tangannya padaku kemudian membantuku berdiri?

    Ia menutup pintu loker kemudian menyenderkan punggung pada deretan loker di belakangnya, “Perlu bantuan?”

    Buang jauh-jauh harapanmu, Kang Sura. 

Amadeo Kou

28

Amadeo Kou

Author       : Ullzsura

Genre         : Romance

Rate            : PG-17

Cast            :

  • Kise Ryōta (Kuroko no Basuke)
  • Kise.Ryouta.600.1335702
  • Matsuoka Gou (Free!)
  • large
  •  Kou POV

    Jika ada yang bertanya perasaan seperti apa yang paling kubenci di dunia ini, ya perasaan yang sedang kualami sekarang ini. Perasaan ketika jantungku tak hentinya berdebar-debar tak karuan, membuat kakiku melemas seperti sudah berlari marathon. Detak jantung yang membuatku lemah, seperti orang penyakitan. Secara tidak sadar, aku menahan nafasku sendiri sedari tadi. Kurasa itu yang membuat tubuhku melemah seperti itu. Sialnya, aku tak bisa berhenti menahan nafasku sendiri.

    Satu persatu siswa SMA Kaijou keluar dari gerbang sekolahnya. Sekolah yang begitu besar. Penampilan mereka sangat berbeda dengan siswa sekolahku. Sekolah elit memang berbeda. Kalau dua tahun yang lalu aku tidak pindah ke Iwatobi, mungkin aku sangat ingin masuk ke SMA ini juga.

    “Gou!”

    Eh? Lelaki berambut kuning yang baru saja keluar dari gerbang langsung berteriak seperti itu saat melihatku. Dia tertawa seperti orang bodoh. Terlalu hyperaktif, seperti monyet kecil. Ah, tidak, aku tidak akan masuk SMA ini, aku akan memilih SMA Seirin saja kalau ingat ada anak itu di sekolah ini.

    “Kou! Namaku Kou!” Jelasku.

    “Tapi namamu memang Gou!”

    “Kou!!”

    Aku tidak suka karena nama Gou itu seperti laki-laki. Dan lelaki itu, lelaki menyebalkan yang sulit kuterima kenyataannya bahwa dia sangat kubutuhkan.

     

    ***

     

    “Ah, begitu.” Gumam Kise, lelaki yang kutemui tadi.

    Kise-kun adalah sahabatku saat di SMP Teiko dulu. Dia yang paling dekat denganku, jadi wajar kalau dia yang kudatangi pertama kali saat sampai di kota ini. Meskipun bukan wajahnya yang ingin kulihat pertama kali, tapi aku harus menemui Kise dulu sebelum bertemu dengan orang yang sangat ingin kutemui itu.

    Tadi Kise-kun mengajakku ke rumahnya. Ternyata kini dia hanya tinggal berdua bersama kakaknya. Dia tidak berubah, tetap jorok. Kamarnya yang luas jadi terlihat sempit karena barang-barang yang berserakan dimana-mana. Bisa-bisanya dia mengajakku ke kamarnya.    Si Kuning bodoh itu hanya berbaring di sebelahku. Satu kakinya bertumpu di kaki lainnya yang ditekuk. Setelah cerita alasanku mengapa kemari yang hanya ditanggapi dengan ‘ah begitu’, jujur saja aku tidak tau harus memulai obrolan baru lagi dari mana. Apakah harus kumulai dari Kuroko? Ah, ya, Kuroko!

    “Kou-chi.” Dia tiba-tiba saja menyebut namaku. “Kau jadi manager klub renang itu agar bisa melihat tubuh mereka, kan?”

    “Heee?”

    “Ahaha, aku tau jalan pikiran otak mesum sepertimu.”

    Sialan. Dia memang selalu menghinaku seperti itu, tapi ternyata hingga sekarang dia memang tidak bisa menjaga mulutnya. Aku tidak pernah berpikir seperti itu. Aku menatapnya geram, tapi kuputuskan untuk tidak membalas ucapannya. Kuambil handphone di sakuku dan basa-basi memainkannya. Aku harus berhati-hati padanya.

    “Kou.” Panggilnya lagi.

    “Hm.” Dia bangun dari tidurnya. Kurasa dia terus memandangku. Benar atau perasaanku saja? Dia tidak bicara lagi. Aku menoleh padanya dan….. jangan berpikir apapun! Segera kututup keningku dengan tanganku dan kututup mataku. Sepertinya Kise masih menatapku seperti tadi, bahkan aku tau dia lebih mendekatiku lagi. Aku saja bisa merasakan nafasnya. Jangan berpikir apapun!

    “Kou.” Panggilnya lagi.

    “Apa?! Jangan bercanda denganku!”

    “Kou.” Dia memanggilku lagi dengan suara rendahnya. Itu membuatku takut. Jangan baca pikiranku! “Memangnya aku saja tidak cukup?” Aku diam. Kenapa dia bicara seperti itu? “Buka matamu, bodoh.”

    Pada akhirnya, kubuka mataku perlahan. Detak jantungku tidak dapat berkompromi. Aku tidak tau apa yang harus kulakukan saat Kise menatapku dalam jarak sepuluh centi di depan mataku.

    “Kau masih sama saja dengan kau yang dulu.” Ujarnya. Dia menundukkan kepalanya, tak lagi menatapku. “Sampai kapan aku harus begini?”

    “Kise-kun, kau bicara apa?”

    “Aku tidak suka kau memanggilku begitu. Panggil aku Ryouta.”

    “….” Entahlah, tapi aku tidak bisa memanggilnya dengan nama depan, padahal kami begitu dekat.

    “Aku akan memanggilmu Matsuoka kalau begitu. Matsuoka, kau lapar?” Tanyanya yang tiba-tiba saja menatapku lagi. “Aku lapar. Kubuatkan makanan.” Dia lalu berdiri dan pergi menuju dapur. Ternyata cukup menyakitkan ketika dia tidak memanggilku dengan nama depanku lagi.

    “Ch, apa-apaan dia itu.” Gerutuku pelan. “Memangnya aku saja tidak cukup? Apa maksudnya? Dia hanya ingin aku melihat padanya saja? Baka.”

    “Besok pertandinganku dengan Akashi. Kuroko pasti datang. Kau jangan telat.” Ujarnya dari dapur. Dia mengingatkanku.

     

    ***

     

    Rasanya sudah lama sekali tidak melihat pertandingan basket sebesar ini. Rasa tertarikku dengan basket memang kurang. Dari dulu memang sama saja alasannya. Ya, karena Kise, aku menonton pertandingan basket.

    Seperti dugaanku, sekolah Kise kalah melawan sekolah Akashi. Memang sejak SMP dulu, Akashi jauh lebih unggul daripadanya, tapi tidak kusangka Kise akan tumbuh sehebat itu. Meskipun kalah, aku tidak melihatnya sebagai seseorang yang kalah. Dia hebat. Aku selalu berpikir, apa dia hebat karena dia dapat membaca pikiran lawan bermainnya? Sebenarnya itu sedikit curang.

    Ah, ya, Kise-kun memang dapat membaca pikiran orang. Entahlah, mungkin memang sejak lahir suka begitu. Alasanku menutup kening dan mataku saat itu karena dengan melihat dua bagian itu, dia dapat semakin jelas membaca pikiranku. Menakutkan.

    Kudengar bunyi langkah seseorang dating ke arahku. Kulihat ke samping, Kise sedang berjalan ke arahku. Tanpa sadar kuperintahkan wajahku untuk berpaling ke arah lain. Aku harus terlihat senang karena Kuroko sedang bersamaku. Sebenarnya sedari tadi aku hanya diam karena tidak tau apa yang harus kubicarakan dengannya. Basa-basi pun aku tak pandai. Sesekali Momoi-san mengajakku bicara, lalu dia bergurau lagi dengan Kuroko. Aku memang tidak terlalu akrab dengan mereka.

    “Anoo…, seru sekali ya! Ha-ha-haaa…” Ujarku sambil menepuk-nepuk pundak Kuroko. Aku tau dia akan memberikan respon dengan tatapan anehnya padaku. Bicara pada Kuroko hanya membuatku terlihat bodoh saja.

    “Sudah selesai?” Tanya seseorang di sebelahku. Kise. Dia menaruh kedua lengannya pada tiang penyangga sehingga wajahnya sedikit lebih dekat denganku.

    “Huh? Apanya?” Tanyaku.

    “Bicara dengannya.”

    “Mm.” Aku hanya mengangguk pelan.

    “Ikut aku.” Kise menggandeng tanganku, lalu membawaku pergi begitu saja.

    “Oi, kau mau kemana?” Aku menoleh ke belakang ketika Aomine-kun berteriak pada Kise-kun. Dia sama sekali tidak meresponnya. Dia terus saja berjalan membawaku keluar. Ketika dia menuntunku seperti ini, rasanya ingin menyerah saja.

    “Kita kemana? Bukankah ada satu pertandingan lagi?” Tanyaku. Dia tidak menjawabku. Dia berhenti untuk mencuci mukanya di samping gedung. Dia menunduk, menumpukan kedua tangannya di lutut. Air menetes dari rambutnya yang basah. Entah sampai kapan aku harus menyukainya.

    Kise kembali berdiri tegap dan berjalan ke arahku. Tinggi sekali. Dia tumbuh semakin dewasa, rasanya semakin sulit untuk berhenti menyukainya. Aku tau kini Kise membaca semua pikiranku, tapi semuanya aman. Rasa sukaku terbalut sempurna oleh rasa takutku. Dia menjadi menakutkan. Jauh berbeda ketika ia bersama teman-temannya.

    “Kapan kau akan menyerah?” Tanyanya padaku dengan wajah menyebalkannya. “Walaupun Kuroko itu polos, tentu saja dia akan tetap memilih Momoi. Bandingkan saja tubuhnya denganmu aha-ha…..” Ternyata dia Kise yang biasanya. Kise yang gemar mengejekku. Tengil.

    “Menyebalkan!”

    “Eh? Memang benar, kok.”

    “Bicara seperti itu tidak akan membuatku memilihmu, mengerti?”

    “Bukankah sejak awal kau sudah memilihku?”

    “….”

    “Oi! Kise!” Tiba-tiba saja ada yang memanggilnya jauh di belakangku. Kami berdua menoleh padanya. Sepertinya dia teman satu grupnya.

    “Ah, senpai!” Dan Kise bersikap ceria seperti biasanya dengan menunjukkan wajah berseri-seri bodohnya itu. Dia benar-benar seperti bermuka dua.

    “Pelatih akan membagikan makanan. Kembalilah ke ruang ganti!”

    “Baiklah! Tunggu sebentar!”

    “Ajak saja pacarmu juga!”

    “Huh? Mm.”

    Senpai-nya itu pun pergi. Pacar, ya…?

    “Ikut denganku?” Tanyanya dengan suara pelan, seperti ragu. Bahkan dia tidak menatapku sama sekali. Heeeh? Kenapa telinganya merah begitu? Memalukan.

    “Jangan berharap yang tidak-tidak!” Sentakku.

    “Apanya?!” Balasnya. “Cepat ikut denganku!” Kise kembali menarikku. Sepertinya dia akan membawaku ke ruang ganti.

    “Aku tidak akan pernah berpacaran denganmu.”

    “Aku menyukaimu, kau menyukaiku, kenapa kau membuat semuanya menjadi rumit?!”

    “Kau menyusahkanku!”

    “Berhentilah menebak-nebak apa yang akan terjadi nanti! Memangnya kau peramal!”

    “Kau tau? Untuk menjadi temanmu saja aku harus menerima banyak beban. Semua anak perempuan mendekatiku hanya untuk menanyakanmu dan—-“ Aku berhenti bicara ketika Kise membuka pintu ruang ganti sekolahnya. Aku tidak bisa berargumen dengannya lagi karena di dalam pasti banyak teman-temannya, tapi ternyata…masih kosong. Mungkin senpai-nya itu masih memanggil temen-temennya yang lain yang sedang berkeliaran. Kise berjalan menuju lokernya yang berada di pojok ruangan.

    “Itu artinya kau harus menjadi milikku. Mereka akan berhenti.” Ujarnya datar. Dia membuka lokernya dan menaruh handuknya di sana. Aku pun langsung berdiri di depan lokernya sebelum ia menutup pintunya. Tangan kanannya sudah hampir menutup pintunya. Hampir saja.

    “Kita tidak satu sekolah seperti dulu. Aku sangat mengenalmu. Kau tidak akan bertahan la—“

    “Kou-chan.” Tiba-tiba saja Kise memanggil namaku, membuatku berhenti bicara.

    “Apa?”

    “Kau tidak mengenalku dengan baik.”

    “Tentu saja aku ta—“

    Lagi, dia membuatku berhenti bicara. Dia menciumku, tepat di balik pintu loker.

    82536c1babeccbb7d8b6b32c5b3edb57-1          Cklek.

    “….kalau saja si bodoh itu tidak—–“

    Kudengar suara orang-orang mulai bermunculan. Teman-temannya sudah masuk ke dalam ruangan, tapi Kise tidak melepaskannya juga. Aku bisa saja pergi karena Kise tidak menyentuhku sama sekali, tapi kenapa tidak kulakukan?

    “E-eh? O-oi, Kise—“ Saat temannya bertanya dari kejauhan, barulah Kise melepaskan ciumannya dan kembali berdiri tegak. “Kau sedang apa?”

    “Sedang bicara dengannya. Kenapa?” Jawabnya santai.

    “Aku mau pulang.” Kataku tanpa melihatnya sama sekali. Terpaksa harus kulewati teman-temannya itu yang memandangku dengan penuh pertanyaan. Aku hanya bisa membungkuk pada mereka lalu pergi.

    Memangnya saling menyukai saja cukup? Kenapa dia begitu mudah untuk memutuskannya? Dia terlalu populer dan aku kesulitan dengan hal itu. Aku menyadari kemampuanku, makanya kuputuskan untuk menyukai Kuroko yang tidak begitu menonjol. Seorang pecemburu seperti aku ini memang sudah seharusnya tahu diri dari awal. Lagipula dia tidak pernah serius padaku. Sejak awal dia terlalu mudah untuk mengatakan suka padaku.

     

    ***

     

    Kise POV

     

    Kudengar Kou akan pulang lusa. Terpaksa kusuruh kakakku pulang ke rumah dan memaksanya untuk menyuruh Kou kemari. Jika kakakku yang menyuruhnya, dia pasti menurut. Sudah sejam yang lalu dia di ruamhku, tapi kakakku tidak datang juga. Dari setengah jam lalu dia menyibukkan dirinya di dapur untuk membuat makanan. Wajahnya menyeramkan. Ya, aku tau dia sedang berusaha menghindar agar tidak perlu banyak bicara denganku.

    Apa yang kulakukan kemarin itu salah? Aku terus berpikir sambil berbaring di depan TV. Tidak banyak yang bisa kulakukan untuk membuatnya mempercayaiku. Ha, ketika perempuan lain berlomba-lomba untuk dekat denganku, dia malah begitu. Lalu aku harus merusak wajah tampanku agar dia bisa menerimaku?! Dia orang bodoh.

    “Oi, kau lama sekali~” Keluhku. Aku tau dia sengaja berlama-lama di dapur. Keadaan canggung ini membuatku aneh. Bahkan dia diam saja ketika aku bicara. Aish, apa yang harus kulakukan. Kuputuskan untuk menghampirinya saja dan berakting seperti biasanya. Kulihat dia sedang membuat telur gulung. “Untuk apa membuat banyak seperti itu? Percuma saja kau membuat porsi untuk kakakku. Dia tidak akan memakannya. Kau tau kan kalau masakan burukmu itu hanya aku yang bisa memakannya?”

    “Sebaiknya kau tidur saja daripada membuat orang lain kesal lagi.” Balasnya. Akhirnya dia bicara padaku.

    “Tidak mau.” Dia tidak menatapku sama sekali. Dia seperti menganggapku tidak ada. Aku pun menarik tangannya agar dia menghadap padaku. Barulah saat itu dia melihatku. Ya, tanpa harus melihat matanya saja aku sudah sangat mengerti. “Kau marah padaku karena kejadian kemarin?”

    “….”

    “Bodoh. Kau bisa menganggapnya candaan. Lagipula kemarin kau tidak berontak sama sekali karna kau menyukaiku, kan? Jika aku melakukannya lagi sekarang pun aku yakin kau tidak akan menghindar. Berhentilah mengelak, aku lelah.” Tubuhku semakin membungkuk dan kudekatkan wajahku dengannya. Sudah selesai dengan aku yang diam saja menunggunya. Salahnya sendiri, sekarang aku harus sedikit memaksa. Tak peduli jika dia akan menamparku.

     

    Kou POV

     

    “….Jika aku melakukannya lagi sekarang pun aku yakin kau tidak akan menghindar.” Tubuhku benar-benar membeku ketika wajahnya mulai mendekatiku lagi. Bisa saja aku mendorongnya saat itu, tapi kenapa aku sangat takut hal itu akan jauh menyakiti hatinya? “Berhentilah mengelak, aku lelah.”

    Pada akhirnya, dia memang mampu menciumku. Kali ini berbeda dengan sebelumnya. Tangannya begitu erat memegang pergelangan tangan kananku. Rasanya sakit. Satu tangannya mendorong pinggangku sehingga aku tak bisa lari darinya. Satu tanganku mencoba mendorongnya ketika dia memasukkan lidahnya pada mulutku, tapi dia malah semakin memperlakukanku dengan kasar. Dia menyudutkanku pada tembok, memaksa kepalanya menelusup pada leherku. Bagian yang lunak dan basah itu sudah berhasil menjarahi leherku diiringi nafas beratnya yang terburu-buru.

    Apa aku sudah keterlaluan hingga membuatnya berubah seperti ini? Candaan. Apa hal ini pun candaan?

    “Kise-kun..hh.., yamete!”

    Aku berteriak padanya ketika tangannya masuk ke dalam bajuku dan tubuhku bergetar ketika tangannya bersentuhan dengan perutku. Dia tidak berhenti. Tangannya terus bergerak, bahkan dia berani menyentuh dadaku. Aku benar-benar membencinya!

    …..

    Dia berhenti.

    “Pendek. Papan Irisan. Menyebalkan. Tidak memikirkan perasaan orang lain. Aku akan tidur. Jangan mengganggu.”

    Akhirnya air mataku turun juga setelah dia pergi meninggalkanku. Dia mendengarku? Bahkan dalam pikiranku saja, aku mengucapkan hal yang bukan sebenarnya. Aku benar-benar munafik.

     

    ***

     

    “Dia itu memang bodoh dan cengeng.” Ujar Nami-san, kakak Kise yang baru datang setengah jam yang lalu. Dia berkomentar seperti itu setelah kubilang adiknya yang marah padaku. “Jika dia marah pun tidak akan bertahan lama.”

    “Tapi dia tidak pernah marah padaku sebelumnya.” Kataku. Sebagaimanapun aku memarahinya, dia tidak pernah terlihat tersinggung. Hanya karena aku tidak sengaja berpikir bahwa aku membencinya, dia jadi seperti itu. Bahkan tadi saat dia keluar kamar sebentar dan aku bertanya padanya, dia hanya menjawabku dengan ekspresi dingin. Kise yang seperti itu benar-benar menakutkan.

    “Jadi…., kalian sudah berpacaran, ya?”

    “Tidak!” Tegasku. Dia sama saja dengan adiknya. Senang menggoda dan membuat orang lain kesal dengan ekspresi menyebalkan mereka.

    “Bagaimana bisa?! Kau sedang berkencan dengan orang lain di sana?! Bukankah kau menyukai adikku?!”

    “……tidak.”

    “Tidak untuk yang mana?”

    “Aku tidak berkencan dengan siapapun.”

    “Aaa, jadi tidak salah, kan, kalau kau menyukai adikku?”

    “….”

    “Aku mengerti. Ryouta sering menceritakannya padaku.” Mataku langsung tertuju padanya. Apa yang dia ceritakan?! “Adikku memang tampan, ya. Hahaha.”

    “….” Benar-benar tidak ada yang berbeda dari mereka berdua.

    “Kalau kau menyukainya, kenapa harus ragu padanya? Kau tidak benar-benar menyukainya, ya?” Pertanyaan Nami-san sedikit menamparku. Kupikir aku benar-benar menyukainya. Kenapa aku ragu? “Waktu kau pindah, dia merengek padaku. Aku tidak menyangka kalau dia secengeng itu. Aku sangat bersyukur karena dia sangat menyukai basket. Setidaknya dia tidak terlalu uring-uringan. Lagipula…. kau tau sendiri kalau dia tidak berpacaran itu bukan karena dia ingin fokus pada hobinya. Kalau memang benar, mungkin dia akan berhenti mengejarmu dari dulu. Apa lagi yang kau ragukan?”

    Sebenarnya ada satu yang membuatku sangat takut. Bagaimana bisa aku menjadikannya milikku, lalu jika terjadi masalah yang tidak diinginkan, dia akan benar-benar pergi.

    “Jika aku tetap berteman dengannya, mungkin kita akan terus bersama.”

    “Hm.” Nami-san hanya tersenyum. “Ternyata kau benar-benar menyukainya, ya?”

    Begitulah adanya.

    “Tapi kau benar-benar tega membuatnya menunggu.” Lanjutnya.

    “Aku tidak menyuruhnya menungguku. Berkali-kali aku sudah menolaknya.”

    “Tapi dia akan terus menunggumu. Anggap saja jika memang pada akhirnya kalian harus bersama. Kau akan membiarkannya menunggu selama itu? Apapun kemungkinannya, kau harus mencobanya. Jika kau tidak menyukainya, kau boleh saja bertindak seperti ini, tapi kau menyukainya. Haaaah, aku mengerti perasaanmu. Perempuan memang tidak tau maunya apa.”

    “….” Aku masih diam, mencoba untuk berpikir.

    “Kalau kau tidak bersamanya dari sekarang, kau bisa saja menyukai orang lain di lain hari. Ryouta pun sama. Aku yang melihatnya, rasanya sayang sekali kalau perasaan itu tidak diperjuangkan.”

    “Wakatta.”

    “Hm?”

    “…..Aku mengerti. Aku akan bicara padanya.”

    “Pulanglah kalau begitu. Sudah malam.”

    “Eh?” Mataku melirik ke arah jendela dan hujan besar belum juga reda. Lagipula urusanku belum selesai, kan? “T-tapi…, uh, boleh kupinjam payung?”

    “Aku tidak punya payung.” Jawabnya cuek sambil memainkan lolipop yang dimakannya.

    “Uh.., etto…,”

    “Maksudku, kau harus menginap untuk malam ini.” Ah, nyatanya dia terlalu bertele-tele. Kalau ingin menyuruhku menginap, kenapa harus mengusirku terlebih dahulu?

    “Baiklah!” Jawabku semangat. “Lagipula banyak yang ingin kuceritakan padamu. Kau tidak mengantuk, kan, onee-san? Kita bisa bercerita sampai tengah malam.”

    “Ahaha, bicara apa kau ini. Ikut aku.”

    Tiba-tiba saja Nami-san menarikku keluar dari kamarnya. Dia berjalan menuju lantai dua, tepat pada kamar Kise. Apa? Dia mau menyuruhku bicara padanya sekarang? Aku tidak siap!

    “Ryocchi!” Nami-san membuka pintu kamar Kise tanpa mengetuknya dan seenaknya mendorongku untuk masuk ke dalam. Tak kalah terkejutnya denganku, Kise pun pasti merasa seperti itu. Dia yang tadinya sedang berbaring langsung bangun dari tidurnya. “Kou-chan akan tidur di sini, ya!”

    “Onee-san!” Mataku terbelalak karena ucapannya. “Aku tidur di kamarmu!”

    “Pacarku akan menginap malam ini, jadi kau tidak boleh mengganggu. Mengerti?”

    “T-t-tapi…”

    “Ja ne!”

    BLAM!

    Nami-san keluar kamar seenaknya dan menutup pintunya keras sekali.

    “Ryocchi! Kau berhutang padaku!” Teriaknya dari luar. Sekarang, aku tidak tau apa yang harus kulakukan. Aku hanya mematung di depan pintu. Sepertinya Kise-kun masih dalam mood yang buruk. Dia membuat keringat dinginku keluar.

    “Ano…, boleh kupinjam kasur lipatmu? Oh, atau aku akan tidur di ruang TV saja. Ehe-he.” Kataku kikuk.

    “Tidur saja di kamar. Di luar dingin.” Ujarnya datar. Dia bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan ke arahku. Tatapannya masih dingin. Dia menarik tanganku dan membuatku duduk di atas kasurnya. “Tidur saja di situ. Aku di bawah.” Ujarnya lagi. Dia mengambil futon di lemarinya dan menggelarnya di bawah, tepat di sebelah tempat tidur. Dia menyelimuti dirinya dan berbaring membelakangiku.

    “Matikan saja lampunya kalau kau mau. Oyasumi, Mat-su-o-ka.” Ucapnya. Bahkan dia terlalu kekanak-kanakan untuk menunjukkan bahwa dia marah padaku. Ini menyedihkan.

    Pantasnya aku memperjuangkan seseorang yang juga memperjuangkanku. Kise sudah melakukan semuanya, seharusnya aku balik mengejarnya. Tapi jika Kise mengabaikanku seperti ini, rasanya berat. ‘Kise-kun, seharusnya kau mendengar permintaanku’. Setelah semua hal yang kupikirkan sekarang ini, dia tetap saja diam. Itu tanda bahwa dia benar-benar lelah dan aku menyesal.

     

    Author POV

     

    Malam itu suara hujan yang turun malah membuat suasana semakin terasa sunyi. Sebisa mungkin Kou menahan tangisannya yang membuat nafasnya sesak. Ia tidak tau harus berbuat apa karena rasa gengsi tak bisa ditaklukannya. Kini ia hanya bisa merutuki dirinya sendiri. Disamping itu ia terus berpikir, berusaha menjernihkan pikirannya. Perlahan ia menggerakkan tubuhnya. Selangkah demi selangkah ia bangkit dan terduduk di samping Kise yang membelakanginya. Tangannya meraih selimut yang Kise pakai, memerasnya sekuat mungkin, berusaha menjadikan dirinya berani.

    “Kise-kun…”

    “Berhenti bersikap menyebalkan seperti itu.” Kise yang tiba-tiba bicara membuat Kou terkejut. Kise membalikkan tubuhnya dan bangun dari tidurnya, lalu menoleh pada Kou yang duduk di sebelahnya dengan mata berkaca-kacanya. Kou menunduk, tidak berani menatapnya lagi.

    “G-gomen.” Ucap Kou.

    “Kenapa?”

    “Aku…aku menyukaimu. Maaf.”

    “Aku tau.”

    Respon sederhana dari Kise membuat Kou benar-benar meneteskan air matanya. Ia takut penyesalannya itu tidak akan menghasilkan apa-apa. Kedua tangannya yang dikepal itu benar-benar menjadi kaku karena tegang. Ia tidak dapat konsentrasi memikirkan kata-kata yang seharusnya keluar dari mulutnya.

    “Maaf.” Ujar Kou lagi.

    “Apa yang sebenarnya ingin kau katakan?” Kou hanya diam, kebingungan dengan isi pikirannya. “Baka.”

    “…..”

    Tiba-tiba saja Kise menarik Kou ke dalam pelukannya.

    “G-gomen.” Ucap Kou yang terkejut dengan perlakuan Kise terhadapnya.

    “Untuk apa lagi kau meminta maaf?”

    “Aku menyerah.” Kini Kou mendongakkan kepalanya agar dapat melihat wajah Kise saat itu. Kedua tangannya erat memegang kaos Kise. “Aku menyerah sekarang. Jangan marah padaku. Maaf.”

    “Tanpa kau katakan itu pun aku sudah tau, bodoh. Berhenti minta maaf. Harusnya aku. Maaf sudah membuatmu takut. Maaf karna aku sudah menyentuhmu seperti tadi.”

    “Daijoubu. Aku sudah membuatmu menunggu lama. Gomen ne, Ryouta-kun?”

     

    ***

     

    Kise POV

     

    “Daijoubu. Aku sudah membuatmu menunggu lama. Gomen ne, Ryouta-kun?” ujar Kou. Aku tersenyum. Ya, memang sangat lama. Tapi berapa lama menunggunya sudah tidak berarti lagi sekarang. Aku sangat senang karena akhirnya dia menyerah padaku dan untuk pertama kalinya setelah sekian tahun, dia memanggilku Ryouta.

     

    ‘Aku tidak akan memperdulikan apapun lagi. Bahkan jika aku harus memberikan seluruh tubuhku padanya, tidak apa-apa’

    ….. Apa yang dia pikirkan. Kata-kata itu membuat telingaku terasa panas.

    “Nande?” Tanyanya dengan tatapan polosnya. Tak lama, wajahnya memerah dan langsung melepaskan diri dariku, lalu membuang wajahnya yang memerah. Apa dia lupa kalau aku dapat mendengarnya?

    Bodoh. Pertama kalinya aku begitu malu karena membaca pikiran mesumnya tentangku.

     

    -END-

     

    FF seadanya, ya. Gomen! Ditunggu commentnya 🙂

[FF] ALLONIA // PART 3

188

Image

Author : Ullzsura

Genre  : Romance, sad

Cast     :

–          Kim Himchan

–          Kang Sura

 

Sura POV

 

            “Lalu…, apa yang akan terjadi?” Tanya Hyojin penasaran. Aku pun ikut penasaran dengan apa yang Suzy ceritakan tentang apa yang terjadi antara dia dan kekasihnya semalam. Aku pun sangat antusias mendengar cerita darinya.

            “Kau akan hamil, begitu?” Tanyaku.

            “Tidak akan, bodoh!” Suzy malah memukul kepalaku dengan bukunya yang digulung.

            “Lalu?” Tanyaku lagi.

            “Tidak akan terjadi apa-apa, hanya saja aku merasa dia semakin sayang padaku.” Ujar Suzy yang senyum-senyum sendiri. Aku hanya menaikkan sebelah alisku.

            “Bagaimana bisa?”

            “Mana kutahu. Karna aku memberikan apa yang dia mau?” Suzy mengangkat kedua bahunya. Aku hanya berpikir, apa yakin karena hal itu? Ketika kukatakan aku akan memberikan apapun pada Himchan, dia malah marah padaku. “Sudah terlalu malam. Ayo kita pulang.”

            Kami semua pun mengambil tas kami masing-masing dan berjalan bersama-sama keluar dari kelas. Aku berjalan di samping Hyojin, seperti biasanya.

            “Mereka bahkan belum mencapai satu tahun.” Bisikku pada Hyojin.

            “Lalu kenapa? Kau bahkan tidak akan bisa menolak kalau Himchan yang akan melakukannya padamu.” Aku diam, berpikir kalau aku hanya dapat mengomentari oranglain. Ya, Hyojin benar. Tapi karena hal itu tidak akan terjadi padaku, kurasa bukan kesalahan besar jika aku sedikit berkomentar. “Sura…, apa yang kau perbuat?” Tiba-tiba saja Hyojin bertanya seperti itu dengan nada yang aneh, membuatku kebingungan.

            “Ne?” Kulihat Hyojin terpaku melihat ke arah depan, lalu aku pun menoleh pada pandangannya. Aku tak percaya dengan apa yang kulihat sekarang itu. Bahkan aku tak sadar kalau mulutku menganga cukup lama. Dapat kulihat Suzy dan yang lainnya yang berjalan di depanku pun menoleh padaku dan rasanya aku ingin memamerkan pada semuanya kalau dia kekasihku!

            Tapi aku tak dapat melakukan apapun. Aku kebingungan disaat Himchan hanya melihat padaku. Aku menoleh pada Hyojin, dia terlihat ikut kebingungan. Tapi dia mengarahkan kepalanya, menyuruhku agar menghampiri Himchan. Maka kulakukan. Aku berjalan menuju Himchan yang menunggu di gerbang sekolahku. Sedikit canggung karena teman-temanku terus memperhatikan kami.

            “Kenapa? Terkejut melihatku di sini?” Ujar Himchan padaku. Sedikit ragu aku mengangguk. “Ayo pulang.”

            Bingung. Apa yang harus kulakukan? Aku memandangi teman-temanku satu per satu, mereka mengisyaratkan padaku untuk mengikuti ajakan Himchan saja. Ya, lagipula aku tidak mungkin untuk menolak. Pada akhirnya aku berjalan menghampiri Himchan dan kami pergi pulang bersama.

            Hening dan dingin. Kami berdua berjalan menginjaki jalanan yang basah akibat hujan tadi sore. Aku memeluk tubuhku sendiri, merasa kedinginan karena lupa tidak membawa jaket. Mulutku tak dapat mengeluarkan kata-kata apapun. Aku tidak tau mengapa sikapku menjadi seperti ini. Seharusnya aku baik-baik saja seperti dulu.

            “Ada yang salah?” Tanya Himchan tiba-tiba, membuat tubuhku tiba-tiba saja merinding. Terlalu gugup. “Kau diam sedari tadi. Ada yang salah?” Tanyanya lagi.

            “Tidak. Hanya saja….kenapa kau mendatangiku?” Tanyaku.

            “Mulai pulang malam, huh?”

            “Ya, begitulah.” Kutundukkan kepalaku, terus memandangi jalanan yang kutapaki. Perasaanku sangat senang. Entah bagaimana untuk menggambarkannya, yang pasti aku ingin terus tersenyum. “Kau bisa sedikit terbebas dariku, kan? Aku tidak akan bisa lagi datang ke taman. Tapi apa boleh aku menemuimu setiap hari Sabtu?”

            “Bagaimana kalau setiap hari?” Aku hanya melongo memperhatikan wajahnya. “Maksudnya aku yang akan menemuimu.”

            “Ne?” Apa aku tak salah dengar?

            “Aku akan menjemputmu tiap pulang sekolah. Aku hanya khawatir karena kau pulang malam.”

            Tanganku meremas jari-jariku sendiri. Khawatir katanya? Aku tak percaya dia mengatakan hal itu padaku. Dia mengatakan seperti itu, bahkan aku tidak memintanya!

            “Uh, sebenarnya aku tidak apa-apa pulang sendiri. Ada beberapa teman yang rumahnya searah denganku. Sumin pun bisa menjemputku.”

            “Jadi kau tidak mau?”

            “Tidak, tidak! Aku mau!”

            Rasanya aku yang dulu telah kembali. Tidak mungkin aku menolak kesempatan seperti ini. Aku tidak ada apa-apa dengan Himchan, tapi kupastikan dia dapat membuatku tidur nyenyak malam ini.

 

***

 

Himchan POV

 

            Malam kedua aku menjemput gadis itu. Tidak tau mengapa aku bersedia untuk melakukan hal yang membuang waktuku ini. Aku hanya sedikit merasa tidak enak padanya semenjak membaca diary-nya itu. Ayolah, aku tidak sejahat apa yang akan orang bayangkan tentang diriku jika membaca diarynya itu.

            Kulihat dia berlari kecil ke arahku. Tampak bahagia. Baguslah.

            “Apakah lama menunggu?” Tanyanya yang masih mencoba mengatur nafasnya yang terengah-engah. Aku hanya menggelengkan kepalaku.

            “Ayo. Aku baru saja dapat uang. Mau kutraktir minuman?”

            Matanya berbinar. Tentu dia akan mengangguk semangat. Aku pun menarik tangannya untuk cepat pergi ke minimarket dekat taman.

           

***

 

            Duduk di bangku taman seperti dulu. Hanya saja kali ini sepi dan gelap. Kuperhatikan Sura menghangatkan tangannya dengan memegang cup kopi panas. Kulitnya memucat karena cuaca dingin, tapi tidak dengan pipinya. Tetap memerah. Apakah ada satu cara yang dapat membuatku menyukainya? Sepertinya ada. Hanya mengira-ngira. Sejujurnya aku tak dapat membedakan respect karena sebatas kasihan atau yang lain.

            “Ehm.” Dia berdeham. Sengaja? “Uh, untuk kali ini aku bingung harus bicara apa.” Lanjutnya.

            “Bukankah kau selalu menceritakan hal yang tidak penting padaku? Cerita tentang teman-temanmu?”

            “Ah, ya. Tapi sepertinya hal ini tidak pantas untuk diceritakan.”

            “Ceritakan saja.”

            “Temanku dan kekasihnya…..”

            “Hyojin?” Tebakku.

            “Bukan, temanku yang lain. Uh, mereka berpacaran baru…., kurang dari setengah tahun. Mungkin 4 atau 5 bulan. Tapi mereka sudah melakukan…itu.”

            “Itu apa?”

            “Ya, itu.”

            “Ya, apa?”

            “Itu…,” Aku tertawa kecil melihatnya terlihat malu untuk menjelaskannya padaku. Ya, mana mungkin aku tidak mengerti maksudnya dari awal.

            “Ada apa dengan ‘itu’?”

            “Bagaimana menurutmu tentang wanita seperti itu? Kau tidak suka?”

            “Aku tidak tau.” Jawabku jujur. Dia menoleh padaku, melihatku dengan tatapan bingung, membuat wajahnya semakin terlihat konyol di mataku. “Tapi jika aku adalah kekasihnya, kurasa tak ada masalah. Pria memang menyukai hal seperti itu.”

            “Apa itu artinya aku benar-benar tidak menarik?”

            “Hm? Maksudmu?”

            “Kalau pria menyukainya, termasuk kau, sikapku yang murahan ini bukankah bagaikan umpan ikan segar?”

            “Yah, Sura…,”

            “Lupakan. Kita harus cepat pulang sebelum Sumin menyerangku dengan mulutnya lagi. Ayo~”

            Dia menarik tanganku agar bangun dari dudukku. Ekspresinya seperti biasa, seolah tidak ada masalah. Tapi perkataannya membuatku jadi berpikir. Tidak menarik? Tidak, Sura sangat menarik di mataku. Ada yang membuatku takut untuk menyentuhnya. Aku tidak tau.

 

***

 

            Sura POV

 

            Berhentilah bersikap murahan, Sura. Seperti meminta untuk disentuh saja. Memalukan. Menyebalkan, aku tidak dapat melupakan rangkaian kata-kata murahan yang pernah kulontarkan pada Himchan. Mengapa sulit sekali untuk mengontrol ucapanku?

            Nyatanya tak ada perubahan dari Kang Sura yang dulu dan yang sekarang. Tetap menyedihkan. Apakah aku begitu kesepian? Setiap malam selalu seperti ini, merindukan Himchan. Jika saja ia seorang vampire, berkelana dimalam hari, lalu diam, duduk di atas pohon yang ada di halaman rumahku, mengamatiku dari sana, menyanyikan lagu untukku sampai aku tertidur. Ah, bukan andaikan dia seorang vampire, tapi andaikan dia mencintaiku. Dan lagi-lagi aku mengkhayal.

            Kring…..kring….

            Tiba-tiba saja telepon kamarku berbunyi, membuatku semakin sadar dan terpaksa harus menghentikan khayalanku. Aku pun segera mengangkat pesawat teleponnya.

            “Halo?” Sahutku.

            “Ada telepon dari saudara Hyojin. Mau kusambungkan?” Ujar Sumin. Saudara Hyojin? Apakah itu Himchan?

            “Ah, ya!” Dengan semangat kukatakan ‘ya’. Apa tidak salah Himchan meneleponku?

            “Uh, halo?” Terdengar suara dari sebrang. Dadaku kembali berdebar saat mendengar suara rendahnya. Baru kali ini aku gugup untuk bicara. Sangat gugup. “Sura?”

            “Uh, ya!” Tapi Himchan tertawa saat aku menyahutnya. Kenapa? Apa aku terdengar terlalu bersemangat?

            “Kau belum tidur?” Tanyanya. Suaranya di telepon berbeda. Suaranya menggelitik telingaku. Bagaimana ini?

            “Aku tidak bisa tidur.” Kataku. “Apa kau pakai telepon umum?”

            “Tidak, aku pinjam ponsel temanku.”

            “Darimana kau tau telepon rumahku?”

            “Untuk apa ada buku telepon?”

            “Ah, ya~.” Lalu bingung harus mengatakan apa lagi.

            “Kalau kuajak jalan-jalan ke luar, kau mau?”

            “Huh?”

            “Aku ada di depan rumahmu.”

            Terkejut, langsung saja aku loncat dari atas tempat tidurku, lalu membuka tirai. Himchan di sana sedang melihat ke arahku! Ada apa dengannya akhir-akhir ini? Ah, tapi aku tidak peduli, yang penting aku sangat bahagia malam ini. Tapi…, bagaimana caranya aku keluar dari rumah ini?

 

***

 

            Himchan POV

 

            “Aku takut…” Rengeknya di atas dinding pagar rumahnya.

            “Loncat saja, nanti kutangkap.” Kataku kesal. Rumah dengan pagar tinggi seperti ini memang menyusahkan.

            “Nanti kau jatuh.”

            “Yah, badanmu yang seperti korek api tidak akan membuatku jatuh. Cepat.” Dia menurunkan satu kakinya. Terlalu berhati-hati. Lama, membuatku semakin kesal. “Cepatlah, kalau tidak Sumin akan melihatmu.”

            “Ya, ya. Huwaaa, bagaimana ini?” Kini dua kakinya sudah menggantung. Langsung saja kutarik kedua kakinya dan kutangkap dia. Dengan cepat dia memberatkan badannya hingga kakinya menapak pada jalanan. Kedua tangannya masih mengalungi leherku. Kau tau? Ekspresinya lucu sekali saat itu. Wajahnya berubah menjadi merah. Dia malu, huh? Dengan cepat ia menurunkan tangannya, lalu menyibukkan diri dengan membersihkan belakang celananya. Dia tidak terjatuh, untuk apa membersihkan celananya?

            “Wajahmu konyol sekali.” Ejekku. “Ayo pergi.” Lanjutku, lalu menarik tangannya.

            Kami pun menelusuri jalanan yang cukup sepi. Mungkin karena sekarang sudah pukul 11 malam. Entah apa alasan sebenarnya aku mengajaknya keluar malam. Aku tidak bisa tidur dan merasa bosan. Sura berjalan di sebelahku, terus menunduk memperhatikan jalanan. Memakai piyama berwarna biru langit dan rambut panjangnya ia urai. Terlihat semakin polos saja.

            “Hm…, ada yang berubah denganmu.” Ujar Sura dengan wajahnya yang tetap tertunduk.

            “Kenapa? Kau tidak suka?”

            “Uh, bukan, bukan!” Kini dia melihat padaku, sepertinya dia takut kalau aku salah paham. “Aku hanya sedikit aneh saja. Kau sedikit…..uh, aku suka.”

            “Benarkah?”

            “He-em. Kenapa kau mengajakku keluar?”

            “Kenapa kau mau kuajak keluar?”

            “Apa kau kesepian? Kenapa tidak mengajak temanmu?”

            “Kenapa kau berani keluar rumah hanya untuk menemaniku?”

            “Kenapa tidak pergi bersama Sunhwa saja?”

            Ada apa dengannya? Kenapa harus membawa nama Sunhwa? Dia menutupi bibirnya sendiri, seperti telah tidak sengaja menyebutkannya.

            “Wae? Kau ingin tau tentang Sunhwa?” Kataku. Dia tidak menjawab. “Bukankah pernah kukatakan kalau aku hanya pernah menyukainya? Kini kau yang bersamaku, apakah aku masih harus mengajaknya pergi keluar?”

            “Tapi…., apa alasanmu berhenti menyukainya?” Aku menghela nafas panjang. Anak ini pasti penasaran dengan hal yang tidak penting.

            “Murahan. Itu alasannya.” Jawabku seadanya. “Dia memperlakukanku sama dengan yang lainnya dan aku tidak suka.”

 

            Sura POV

 

            “Dia memperlakukanku sama dengan yang lainnya dan aku tidak suka.” Ujar Himchan. Oh, ternyata dia senang dispesialkan? Aku memperlakukannya berbeda dengan yang lainnya, tapi mengapa perasaannya tidak berubah terhadapku? Memang benar kalau perasaan tidak bisa dipaksakan. “Ah, Sura, ada yang ingin kukatakan padamu.” Ujar Himchan lagi.

            “Apa?”

            “Sehari setelah ulangtahunmu…, aku akan pindah ke Seoul.” Terangnya. Jelas hal itu membuatku membulatkan mata tak percaya. Dia akan pergi? “Aku sudah mulai berpikir tentang masa depanku. Aku akan mencari peruntungan di sana.”

            “Tapi mengapa tidak di sini?”

            “Kau tau kalau di sana lebih mudah.”

            “Ah, ya….” Hanya dapat pasrah karena aku tidak bisa menahannya dengan kata-kata apapun. Sedih. Mengapa setelah ulangtahunku? Mengapa harus secepat itu? “Apa itu artinya kita….”

            “Hm, mau bagaimana lagi? Maafkan aku.”

            “Tidak apa.”

            Aku hanya dapat tersenyum seperti orang bodoh. Mungkin memang ini yang ia inginkan. Hal itu kebebasan bagi Himchan. Bebas, terlepas dariku.

“Himchan,” Panggilku.

            “Hm?”

            “Boleh aku minta satu permintaan?”

            “Satu, katamu?”

            “Aku janji tidak akan meminta apapun lagi.”

            “Baiklah, apa?”

            “Saat ulangtahunku nanti…, bisakah kau berpura-pura mencintaiku?”

            Permintaan bodoh, tapi aku hanya ingin memiliki kenangan indah saat terakhir bersamanya. Ya, tidak apa berpura-pura karena aku tau Himchan tidak akan pernah bisa mencintaiku.

 

***

 

Sept 11th

 

            Sejak sepuluh menit yang lalu, aku sudah siap menunggu di depan rumahku. Melihat ke bawah, memperhatikan lagi penampilanku dari bawah. Kupikir tidak ada lagi yang kurang. Daguku mendongak ke atas, memandangi langit yang sangat cerah. Tadinya hari ini sangat kutunggu-tunggu, tapi kini aku ingin memperlambat waktu.

            Kulihat Himchan mulai muncul dari ujung jalan. Aku tau khusus hari ini dia tidak akan membiarkanku menunggu terlalu lama. Dia berlari kecil saat sudah hampir dekat denganku. Saat sampai di hadapanku, entah mengapa aku malah tersenyum kikuk.

            Seperti biasa, di mataku dia selalu terlihat tampan. Tapi hari ini dia lebih tampan karena dia terlihat lebih rapi dari biasanya. Dia memakai jeans dan juga kemeja berwarna biru bermotif jangkar kecil. Aku yang memintanya.

            “Lama menunggu?” Tanya Himchan padaku. Kurasa dia pandai berakting. Tatapannya berbeda dari biasanya. Lebih hangat. Aku tersenyum dan mengangguk cepat. “Kita pergi sekarang kalau begitu.” Dia tersenyum, lalu mengulurkan tangannya. Aku meraihnya, lalu dia mengencangkan genggamannya, menarikku untuk segera berjalan. Rasanya jauh berbeda. Sudah lama aku mengidamkan keadaan seperti ini.

            Dia mengajakku pergi ke daerah Gwacheon-si. Kebetulan katanya sedang ada Seoul Grand Park Rose Festival yang merupakan acara  festival yang memperlihatkan keindahan bunga mawar. Jauh dari kata membosankan, bagiku pergi ke tempat itu sangatlah romantis. Aku tak menyangka Himchan akan membawaku ke festival ini. Disana terdapat 239 variasi mawar dan semuanya sangatlah indah.

            “Apa kita dapat memetiknya?” Bisik Himchan padaku.

            “Aku tidak tau.” Kataku setelah menaikkan kedua bahuku. Himchan memperlambat langkahnya, mengambil posisi di belakang tubuhku. Apa yang dia lakukan? Bersembunyi di belakang tubuhku?

“Ini.” Tiba-tiba saja sebatang mawar berwarna merah keunguan sudah ada di depanku. Himchan memberikannya dari belakang. Aku tertawa kecil, lalu mengambilnya. “Jika petugas menanyakan dari mana kau dapat bunga itu, jangan katakan itu dariku.”

            “Ish!” Dia hanya tertawa. Apakah ini saat terakhirku untuk melihat tawanya? Aku takutkan itu.

 

***

 

            “Jika kencan bersamaku, temanya selalu alam.” Ujar Himchan yang sedang melihat lurus ke depan sambil menikmati angin yang meniupi wajahnya. Aku memperhatikannya dan senyumku tak pernah memudar. “Kau tau alasanku, kan? Haha.” Aku tertawa kecil. Ya, wisata alam hanya memerlukan biaya yang sedikit, bahkan banyak yang gratis. Aku mengerti. Tapi hal itu bukanlah masalah. Asal bersamanya dan tetap dengan keadaan seperti ini rasanya sudah sempurna. Rasanya seperti kencan terbaik yang pernah kualami.

            Kuperhatikan Himchan begitu lelah. Setelah bermain di Seoul, kami kembali ke Busan. Kami hanya duduk di pinggir sungai sambil memandangi jembatan Gwangan yang terlihat bercahaya pada malam hari. Indah.

            “Apa suatu saat nanti kita dapat melakukan hal menyenangkan seperti ini lagi?” Tanyaku. “Ah, maksudku, apa aku dapat merasakan kesenangan seperti hari ini lagi? Bersamamu?” Himchan menatap padaku yang duduk di sebelahnya. Sedih. Hari ini terlalu menyenangkan sampai aku lupa kalau semua ini hanyalah sandiwara. “Pergi ke festival bersama, menelusuri jalanan Seoul bersama, pergi ke pusat perbelanjaan bersama, makan ice cream bersama?” Tapi Himchan menundukkan kepalanya, lalu tersenyum. “Aku lupa kalau aku hanya punya satu permintaan.” Kataku lagi sambil tertawa kecil. “Sudah terlalu malam. Kau harus istirahat untuk pergi besok.” Aku pun berdiri, disusul Himchan. Suasana berubah total. Bingung harus bicara apa, aku hanya dapat berbasa-basi dengan menepuk celanaku yang kotor.

            “Kuantar pulang?” Tawarnya padaku.

            “Rumahku dekat.” Kataku.

            “Sudah terlalu malam.” Pada akhirnya aku mengangguk saja. Kami pun berjalan menuju rumahku yang tak jauh dari sana.  Dia menggandengku lagi, tapi kami diselimuti keheningan sampai akhirnya tiba di depan rumahku. Tidak mungkin aku meminta permintaan agar Himchan tetap di sini. Dia pergi demi kebaikan hidupnya, aku tidak bisa melarang. Malam ini aku hanya ingin Tuhan menguatkanku untuk bicara banyak padanya. Banyak yang ingin kusampaikan, tapi rasanya lidahku lumpuh.

            “Senang mengenalmu, Sura.” Ujarnya tiba-tiba. Dengan berani aku menatapnya, menahan sedihku. Kalimat itu seharusnya dapat membuatku senang, tapi ini kebalikannya. Aku hanya dapat tersenyum untuk membalas perkataannya.

            “Terima kasih sudah mengajakku pergi hari ini.” Kataku, lalu berusaha lepas dari genggamannya, tapi…aku kembali menatap padanya ketika ia mempererat genggamannya pada tanganku. Dia menunduk. “Wae?” Tanyaku. Dia tidak menjawab, tapi sedikit membungkuk, mencondongkan wajahnya padaku, lebih dekat, lebih dekat lagi, tapi aku menahannya dengan menutup bibirnya dengan punggung jari-jari tanganku. “Terimakasih, tapi kau tidak perlu melakukan itu untukku. Sandiwaramu bagus sekali. Meskipun hanya berpura-pura, tapi aku sangat sena—-

            Rasanya jantungku berhenti berdetak ketika Himchan mendorong wajahnya hingga ia dapat mencium bibirku dari balik jari-jariku yang menghalangi kami.

            “Kau ingat satu-satunya alasan dimana aku akan menciummu?” Ujar Himchan yang sedikit memberi ruang antara kami. “Untuk yang satu ini aku tidak sedang berpura-pura.”

            “….”

            “Selamat ulangtahun, Sura. Aku pergi.”

Dia memundurkan langkahnya, menaikkan tangannya, lalu berbalik pergi. Perkataannya saat itu terus terngiang di telingaku. Apa itu artinya dia mulai menyukaiku? Daguku bergetar. Tangis yang kutahan sedari tadi rasanya tak tertahan lagi. Mengapa dia harus pergi disaat seperti ini? Dia sama sekali tidak berbalik. Kakiku ingin melangkah, berlari ke arahnya, tapi tidak bisa. Tak ada keberianian untuk menahannya. Mungkin memang harus berakhir seperti ini.Meski aku sangat berharap, tapi entah mengapa pikiranku selalu menggambarkan kalau aku tak akan pernah bisa bertemu dengannya lagi.

 

Sorry for my bad story…

TBC or END??? -__-